Posts

Kampus peradaban SMPIT As-Syifa Boarding School, Subang sukses menggelar Wisuda Angkatan IX dan XI pada hari Sabtu (18/5/2019) bagi wisudawan Putra, dan hari Ahad (19/5/2019) bagi wisudawan Putri, di Gelanggang Olahraga Kampus As-Syifa Boarding School Jalancagak, Subang. Sejumlah tamu undangan dari unsur Muspida, Muspika, Pembina dan Pengawas serta Jajaran Pengurus Yayasan As-Syifa Al-Khoeriyyah, sejumlah perusahaan dari mitra As-Syifa, turut hadir menyaksikan acara ini.


Bertema “Menyambut Kebangkitan Islam dengan Ilmu, Iman dan Amal”, Kepala Sekolah SMPIT As-Syifa Boarding School Jalancagak, Ust. Farhan Muhammad, L.c, memaknainya dengan sebuah penjelasan bahwa wisuda Ghuroba dan Galaxy –julukan angkatan- ini merupakan pembuktian dari lahirnya generasi penerus yang banyak memberi prestasi baik akademik maupun non-akademik. Proses pencapaian berbagai prestasi ini tentu tidak mudah, mengingat pendidikan berbasis boarding memiliki segudang jadwal yang cukup menyita waktu mereka saat masih duduk di bangku sekolah yang menuntut kegigihan dan ketekunan ekstra.

Sebagai wujud apresiasi, As-Syifa memberikan berbagai reward yang dipersembahkan melalui As-Syifa Awards dengan sejumlah kategori, diantaranya reward Umroh bagi siswi atas nama Faizha Shifa Medina.Putri daerah yang berasal dari Jalan Raya Cipeundeuy RT 18 RW 06 Desa/Kec. Cipeundeuy Kabupaten Subang, Jawa Barat ini telah banyak menyumbang sederet prestasi akademik bagi sekolah serta berhasil meraih prestasi tahfidz dengan capaian tertinggi 30 Juz.

Menurut para guru dan teman-temannya, Faizha patut mendapat prestasi dan apresiasi tersebut. Sebab ia dinilai sebagai pribadi yang rajin, pintar, sederhana dan ramah, yang tentu mencerminkan nilai-nilai keteladanan. Ada pula Fakih Aufa Wibowo, wisudawan putra asal Bekasi yang juga meraih capaian Tahfidz 30 Juz.

Pihak As-Syifa berpesan agar para wisudawan senantiasa mengamalkan ilmu dan prestasi yang telah didapat serta menebar kebermanfaatan di tengah masyarakat. Proses dalam mencapai prestasi ini tujuan utamanya bukanlah capaian juara, tapi justru dakwah dimanapun mereka berada pembuktian bahwa didikan selama di Assyifa dapat diimplementasikan saat mereka menjadi duta prestasi di luar sana. Barakallah.

Suasana penuh dengan nuansa religius, kebahagiaan dan kekeluargaan mewarnai kegiatan Apel Akbar sekaligus Halal bi halal Keluarga Besar Yayasan As-Syifa Al-Khoeriyyah yang dilaksankan pada Kamis, 28 Juni 2018 bertempat di Lapangan SMPIT As-Syifa Boarding School Wanareja dan Lapangan SMAIT As-Syifa Boarding School Jalancagak.

Kegiatan Apel Akbar ini diikuti oleh seluruh Jajaran Pengurus Yayasan, Kepala dan Wakil Kepala Sekolah, Para Ketua Bagian, Para Ketua Unit, serta seluruh Keluarga Besar Yayasan As-Syifa Al-Khoeriyyah.


Dalam kegiatan Apel Akbar ini dilaksanakan dengan agenda Pembukaan, Pembacaan Ayat Suci Al-Qur’an, Pembacaan Ikrar Pegawai As-Syifa, Taujih dari pembina Apel yang diwakili oleh Ustadz Sudiman, S.Pd selaku Ketua I Bidang Pendidikan dan Ustadz Lalu Agus Pujiarta, Lc, MA selaku Ketua II Bidang Dakwah dan Sosial, Pengenalan Pegwai Baru Yayasan As-Syifa sekitar 200 Orang.

Acara diakhiri dengan bersalaman yang diawali oleh Jajaran Pengurus Yayasan dan diikuti Kepala dan Wakil Kepala sekolah, Para Kepala Bagian, para Kepala Unit  dan segenap Keluarga Besar Yayasan As-Syifa Al-Khoeriyyah. [Humas As-Syifa]

SMPIT Assyifa Boarding School kembali membawa harum nama Assyifa Boarding School dan Kabupaten Subang dalam Ajang KMNR (Kompetisi Matematika Nalaria dan Realistik) Se-Indonesia yang dilaksanakan oleh KPM di Ancol – Jakarta.

Dimana dalam ajang KMNR ini SMPIT Assyifa mengirimkan 11 Perwakilannya untuk mengikuti babak penyisihan yang dilaksanakan di Subang pada tanggal 17 Desember 2017, dan babak semifinal di Bandung pada tanggal 04 Februari 2018.

Alhamdulillah, pada babak Final sendiri yang dilaksanakan hari ini, Ahad (15/04/2018) Assyifa Boarding School yang diwakili 11 Murid, salah satunya Ananda Faiza Shifa Media berhasil mendapatkan Medali Perak KMNR Se-Indonesia.

Barakallah kepada Ananda Faiza Shifa Fedina kelas VIII dan seluruh jajaran Ustadz/dzah yang telah memberikan support yang luar biasa. Semoga prestasi ini bisa menjadi motivasi bersama untuk wasilah prestasi-prestasi berikutnya. Aamiin.. #Asbosch #AssyifaJuara

Semarak Tabligh Akbar yang dilaksanakan As-Syifa Boarding School Wanareja dalam rangka memperingati Hari Besar Islam yaitu Isra Mi’raj Rasulullah SAW dan dalam rangkaian kegiatan Milad As-Syifa Boarding School Wanareja ke-1 masih terasa sampai hari ini. Kegiatan Tabligh Akbar sendiri dilaksanakan Rabu, 11 April 2018 dengan mengusung Tema “Milieu Islami, Generasi Qur’an”.

Turut Hadir dalam kegiatan ini Yaitu Ketua Umum Yayasan As-Syifa Al-Khoeriyyah KH. Abdullah Muadz S.Pd.I, M.Sc dengan didampingi Jajaran Pengurus serta para Kepala Bagian Yayasan As-Syifa Al-Khoeriyyah, Tamu undangan kelembagaan, serta Murid-murid As-Syifa Boarding School Wanareja dan As-Syifa Boarding School Jalancagak Subang.

Alhamdulillah kegiatan ini berjalan dengan sukses dan lancar, yang mana dalam kegiatan ini diisi dengan kegiatan Qur’ani yaitu Hadrah dari Murid As-Syifa Boarding School Wanareja Subang dengan selanjutnya diisi kegiatan Takbir Akbar oleh para Hufaz Hanan, Manan, dan Ihsan yang lebih kita kenal sebagai Hamanis (3 Hafiz Kembar).

Segenap Keluarga Besar Yayasan As-Syifa Al-Khoeriyyah mengucapkan Terimakasih kepada semua pihak yg sudah ikut membantu bekerjasama melaksanakan agenda acara ini.
#assyifawanareja #generasivisioner #santrikeren

alshifacharity.com – Siswa dan siswi SMPIT Nurul Muhajirin Batam melaksanakan Kunjungan Sekolah ke SMPIT As-Syifa Boarding School Subang, Kamis (8/2/2018). Dalam rombongan yang terdiri kurang lebih sekitar 87 orang ini, terdiri dari rombongan Guru dan Murid putra serta putri SMPIT Nurul Muhajirin kelas 1 sampai dengan kelas 3.

Rombongan SMPIT Nurul Muhajirin Batam tiba pukul 08.00 WIB di lokasi dan disambut langsung oleh Kepala SMPIT As-Syifa Boarding School Ustadz Rizal Anshorudin dengan didampingi Kepala Asrama SMPIT Assyifa Ustadz Aas, Kepala Bidang Pengembangan Kurikulum Ustadz Feri Rustandi, dan Kepala Bagian Humas Yayasan Ustadz Asep Iman Nugraha.

Dalam kunjungan ini Kepala Sekolah Nurul Muhajirin Batam menyampaikan tujuan ingin mengenal lebih jauh mengenai Assyifa Boarding School, khususnya meliputi Informasi Kurikulum, metode pembelajaran, dan kegiatan murid SMPIT Assyifa Boarding School dalam kesehariannya.

Adapun dalam pemenuhan tujuan tersebut langsung di paparkan oleh Ustadz Rizal Anshirudin dan Ustadz Feri Rustandi dengan menjelaskan tahap demi tahap proses yang dilakukan di Assyifa Boarding School, dan memandu langsung jalan-jalan keliling wilayah sekolah Assyifa guna menambah informasi terkait sekolah.

Alhamdulillah kegiatan Kunjungan ini berjalan dengan lancar dan tertib, mudah-mudahan dengan adanya silaturahim ini bisa menjadikan jalan silaturahmi bagi SMPIT As-Syifa Boarding School dan SMPIT Nurul Muhajirin untuk sama-sama memajukan pendidikan ke arah yang lebih baik kembali. [Humas-Assyifa]

alshifacharity.com | Kejuaran FPOS Super Cup 2017 yang dilaksanakan 28 Oktober s.d 04 November 2017, menyisakan kenangan membahagiakan bagi Tim Bola Basket SMPIT dan SMAIT As-Syifa Boarding School. Dimana 3 Tim bola basket As-Syifa masuk ke babak Final yang dilaksanakan pada Sabtu, 04 November 2017.


1 Tim SMPIT As-Syifa Boarding School berhasil mewakili As-Syifa di babak Final tingkat SMP yang bertanding melawan SMP Yos Sudarso., pada pertandingan Final pertama ini Tim Bola Basket SMPIT berhasil memangkan pertandingan dengan skor Akhir 61 – 28. Adapun Pada Babak Final berikutnya di Tingkat SMAIT, Tim bola basket As-Syifa A melawan Tim bola basket As-Syifa B mewakili As-Syifa di babak Final SMA yang berhasil membawa Juara I dan Juara II dengan skor akhir 28 – 21.

Alhamdulillah Semoga dengan tambahan Prestasi ini, Tim Bola Basket SMPIT dan SMAIT As-Syifa semakin berjaya dan bisa terus membawa prestasi sampai tingkat yang lebih tinggi kembali. [Humas-Assyifa]

alshifacharity.com | Lomba Guru Berprestasi Tahun 2017 yang diselenggarakan oleh RnD Yayasan As-Syifa Al-Khoeriyyah pada pekan kemarin sudah memasuki babak final seleksi.
 
Tahap Final seleksi diikuti 37 peserta meliputi Guru bidang Akademik, Guru TKIT, Guru Tahfizh, dan Wali Asrama dengan tahap akhir seleksi melakukan Real Teaching / Presentasi Langsung dihadapan Peserta didik dan Dewan Juri.
 
Hasil dari perlombaan Guru Berprestasi ini :
a. Untuk Kategori Guru Akademik, juara pertama diraih oleh Ustadzah Tuti Rina Lestari, M.Pd., kemudian juara kedua didapat Ustadzah Nisa Hanifah, S.Pd., kemudian juara ketiga, Ustadzah Nenden Chiarunnisa, S.Si. dan Juara Harapan 1 diraih oleh Ustadz wandianysah, S.Mat.
 
b. Untuk Kategori Guru Tahfizh, Juara pertama diraih oleh Ustadzah Lina Sofiyati, juara kedua didapat Ustadz Dadan Dani Somarna, dan juara ketiga, Ustadzah Aulia Nurul Fadhillah.
c. Untuk Kategori Wali Asrama, Juara pertama diraih oleh Ustadzah Susan Nopianti, juara kedua didapat Ustadzah Susi, S.Hum, dan juara ketiga, Ustadz Dzikril Khakim.

d. Untuk Kategori TKIT, Juara diraih oleh Ustadzah Cucuy Setiasih Murni, dan penghargaan diberikan kepadaat Ustadzah Ika Sartika, S.Pd TK/I, dan Ustadzah Roro Wahyuni, S.Pd TK/I.

Masing-masing juara ini selain menerima setifikat, juga diberikan uang pembinaan dari Panitia Pelaksana dan Sponsor kegiatan yaitu Bagian Investasi Assyifa (SyifaMart).

Jajaran Kepala Sekolah, Bagian Rnd Yayasan As-Syifa Al-Khoeriyyah dan Segenap panitia berharap, dengan lomba Guru Berpreastasi ini dan dengan diangkat tema “Teachers who Love Teaching, Teach Children to love Learning” selain dapat meningkatkan mutu dan pola berkesinambungan dalam proses Belajar dan Mengajar, juga menjadi pengakuan terhadap guru-guru berprestasi yang mengikuti dan terpilih.(Humas-Assyifa)

alshifacharity.com | Selamat kepada para pemenang lomba Penelitian Tindakan Kelas (PTK) tahun 2017 yang diselenggarakan oleh Bidang Pendidikan Yayasan As-Syifa Al-Khoeriyah melalui bagian Research & Development (R&D). Kegiatan lomba Penelitian Tindakan Kelas kali ini mengambil tema “ PTK sebagai wahana pengembangan kemampuan berfikir Ilmiah dan peningkatan kualitas mengajar kepada peserta didik”

Berikut nama-nama pemenang lomba PTK As-ssyifa Tahun 2017 :
Juara 1 : Ibu Nenden chiarun nisa, S.Si dengan judul penelitian “Peningkatan Prestasi Belajar Murid Melalui Model Kontekstual Berbantuan Alat Peraga Pada Bangun Ruang Sisi Datar Di Smp Kelas VIII Maryam SMPIT Assyifa”

Juara 2 :  Ibu Rani Rahman, S.Pd, dengan judul penelitian “Peningkatan Kemampuan Menulis Teks Laporan Hasil Observasi Dengan Teknik Mind Mapping Berbantu Media Gambar Dikelas X Ipa 3 Putra SMAIT”

Juara 3 : Ibu Ely Yanti, S. Pd AUD, dengan judul penelitian “Upaya Meningkatkan Kedisplinan Anak Dalam Pembiasaan Shalat Dhuha Melalui Metode Point Reward Pada Siswa Kelompok B TKIT As-Syifa”

Dan Uuara harapan I : Bapak Rikki Faisal H, S.Pd, dengan judul penelitian “Penggunaan Metode Reciprocal Teaching Pada Siswa Kelas Xi Smait As-Syifa Boarding School Untuk Meningkatkan Keterampilan Menyimak Drama Dan Kemandirian Siswa”

Selain kepada para pemenang lomba, apresiasi juga diberikan kepada Tuti Rina Lestari, M.Pd dan Sri Maryani, M.Pd sebagai peserta lomba PTK 2017.

Sekali lagi barokalloh kepada para pemenang lomba PTK 2017, semoga kegiatan ini bisa menjadi motivasi bagi guru-guru yang lain untuk bisa berkarya dan berinovasi pada bidangnya masing-masing.

by  : Abdullah Muadz

AS-SYIFA BOARDING SCHOOL – Minat masyarakat untuk mendaftar Assyifa semakin tidak terbendung lagi. Seluruh karyawan dan tenaga kependidikan Assyifa harus kerja Marathon dan hati hati untuk bisa mengakomodir  berbagai kepentingan, tentu saja tidak bisa semuanya bisa diakomodir. Setelah melalui serangkaian kerja marathon  yang sangat melelahkan sejak dari  November  2015  melayani Calon Orang Tua Santri yang ingin mendaftarkan anaknya ke Assyifa yang mencapai lebih dari 2.600 Pendaftar, sementara daya tampung cuma tersedia kurang lebih 500 kursi saja. setelah ditutup pendaftran pun masih banyak orang tua yang datang karena tertinggal informasinya. Banyak hikmah dan pelajaran yang bisa kita ambil,  adalah sebagai berikut :

Pertama :

Kami belum bisa mengkomodir bahkan masih jauh dari kemampuan untuk memenuhi semua keinginan dan tuntutan masyarakat  pendaftar yang begitu banyak. Kebutuhan sekolah / lembaga pendidikan boarding yang dianggap sebagai alternatife yang lebih baik, masih sangat kurang jumlahnya. Tidak seimbang dengan peminat yang begitu banyak. Berbagai kalimat keluhan, permohonan dengan nada mengiba sangat menyayat hati kami, tidak tega rasanya membiarkan antusias masyarakat yang begitu tinggi.

Kedua :

Kesadaran orang tua yang ingin menyekolahkan anaknya di boarding school itu sangat banyak jumlahnya dan terus bertambah.  Ketika seorang minta agar anaknya diprioritaskan diterima di Assyifa, maka akan ada orang tua lain yang juga minta diprioritaskan, yang jumlahnya jauh melebihi kapasitas yang kami miliki. Kalo orang tua punya alasan mengapa anaknya perlu diprioritaskan, maka akan ada orang tua yang lain pula mengemukakan alasan yang sama, untuk bisa diprioritaskan. Jika ini tidak kita sadari dan fahami, maka munculah suu’ zhon, bahkan lontaran kalimat yang tidak enak didengar, ketika anaknya belum bisa kami diterima. Kami sikapi dengan positif,  itu karena mereka terlalu tinggi pengharapannya kepada Assyifa. Sementara kami belum punya solusinya untuk mengobati kekecewaan dari para calon yang belum bisa kami tampung.

Ketiga

Kini lembaga Pesantren pamornya meningkat, tidak lagi menjadi tempat buangan seperti zaman dahulu. Seiring dengan kecemasan orang tua terhadap nasib anak-anaknya di masa mendatang, terlebih ditengah-tengah lingkungan yang sudah carut marut seperti ini, maka Pesantren manjadi lembaga alternatif tempat orang tua menitip anaknya sehingga hatinya menjadi lebih tenang. Apalagi bagi mereka yang kedua orang tuanya bekerja, maka pesantren seolah menjadi pilihan yang tepat untuk pendidikan anak-anak mereka

Keempat

Menjadi tantangan tersendiri bagi pengurus pesantren untuk menjaga amanah orang tua yang menyerahkan anaknya. Mereka menitip anaknya bukan sekedar dititip badan atau fisiknya saja. Jika hanya itu maka pesantren tidak lebih dari sekedar peternakan manusia. Mereka menitip anaknya untuk ditumbuh kembangkan dalam semua aspek kehidupannya, baik itu aspek jasadiyah, fikiriyah juga aspe ruhiyah atau ruhaninya. Jika pengurus lembaga pesantren menyadari akan amanah yang diembannya ini, harus sangat hati-hati dalam mengelola pesantren juga harus sangat serius serta fokus dalam mengurusnya.

Kelima :

Sistem Penerimaan Murid Baru (PMB) di Assyifa memakai SK Yayasan mulai dari kepanitiaannya sampai pedomannya, diberikan tembusan kesemua fihak yang bersangkutan, dilihat oleh banyak orang. Sehingga terlihat indah apabila semua fihak mau mematuhinya. Tetapi kalo terlalu banyak intervensi untuk minta dispensasi maka rusaklah system yang kita bangun.. omong kosong kita bisa membangun negeri yang baik, kalau system yang kecil ini tidak bisa kita jaga.. lagi lagi kita berhadapan dengan banyaknya keinginan yang minta terpenuhi, dan terbatasnya kemampuan kita untuk bisa mengakomodir semuanya.

Keenam :

System PMB yang kami buat sudah cukup komprehensif, melihat semua semua aspek penilaian, sehingga faktor kelulusan tidak hanya ditinjau dari satu aspek saja. Jika setelah disekor  semua hasil penilaian calon murid itu ada di wilayah aman (papan atas) maka dialah yang paling berhak mendapatkan kursi di assyifa tanpa melihat apapun latar belakangnya, maka kami berupaya menjaga dan mengamankan agar tidak di intervensi, supaya tidak berubah atau tergeser.   Pedebatan panitia dalam menentukan kelulusan hanya  di wilayah skor papan tengah,  karena harus dilihat banyak faktor pertimbangannya sehingga untuk menentuka kelulusan satu orang saja butuh perdebatan panjang.

Ketujuh :

Ada hasil tes akademis yang nilainya sangat miris. Yang sulit kami perjuangkan dengan alasan apapun, apakah karena orang tua sibuk, atau dengan alasan multiple intelegent, bahwa anak itu punya kecerdasan lain… sementara kami punya dua kesimpulan. Pertama orang tuanya yang sangat lalai mendidik  anaknya, kedua atau anak itu yang tidak mau masuk di assyifa jadi sengaja jawabannya dibuat salah… jika dipaksakan juga harus masuk di Assyifa peluang besar akan tidak mampu mengikuti program dan akan minta keluar dari assyifa, sehingga mubazzir dana yang telah dikeluarkan orang tua.

Kedelapan :

Assyifa hanyalah satu diantara banyak sarana pendidikan lainnya, masih banyak alternatif sekolah boarding lainnya. Tidak kiamat kalau anak kita belum bisa diterima diassyifa. Sehingga tidak perlu dijadikan obsesi berlebihan yang menambah terpuruknya kejiwaan si anak jika tidak diterima. Orang tua memegang peranan penting dalam upaya menentramkan serta memberi ketenangan anaknya, sehingga anak tetap tegar menerima kenyataan yang ada jika belum diterima… masih banyak sekolah lain yang lebih baik..

 

Kesembilan :

Kita harus bisa belajar dari Reformasi, batapa pentingnya kita berpegang kepada sistem, agar semua bisa berjalan dengan rapih, teratur dan indah terlihatnya. Tetapi resiko yang harus dihadapi sistem sebagus apapun tidak bisa memuaskan semua fihak. Sehingga kalau kita berfikir rasional dan realistis, kita harus memberikan apresiasi meskipun hal itu kita yang terkena dampak ketidak nyamanan, misalnya anak kita yang termasuk tidak diterima…

Kesepuluh:

Kami mengetuk hati kepada siapa saja yang masih peduli terhadap pendidikan, untuk membangun 1001 model assyifa laiinya bukanlah personalan yang sulit, masalahnya mau atau tidak, peduli atau tidak. Kami melihat banyak lembaga pendidikan lain yang potensi dan peluangnya jauh lebih besar dari Assyifa..dan inilah faktanya lembaga lain itu :

  1. Pengalaman lebih panjang, sementara assyifa baru 9 tahun
  2. SDM berkualitas dan berpengalaman, sementara di assyifa lebih banyak ABG

nya…

  1. Para ownernya punya Kaliber international, dikenal di manca Negara..sehingga

sehingga punya lobby yang kuat dalam pencariaan dana. Sementara Assyifa sangat terbatas akses luar negerinya.

  1. Donaturnya dari berbagai Negara khususnya timur tengah. Sementara assyifa

donaturnya lebih banyak dari satu Negara saja.

Jika kita tidak peduli dan tidak mau, maka dengan mudah mencari 1001 alasan untuk mengatakan sulit, tetapi kalo kita mau dan peduli akan ada 1001 jalan dan peluang untuk merealisasikannya…  Jadi modalnya adalah Kamauaan dan Kepedulian…

Kesebelas :

Semakin menambah kepercayaan kita akan janji Allah yang begitu banyak. Bahwa Allah akan memberi jalan keluar bagi orang yang bertakwa (Q.S 65 : 2 ),  Allah akan menolong bagi siapa saja yang menolong agamanya (Q.S 47 : 12 ),  Allah akan memberikan jalan jalanNya bagi siapa saja yang mau serius berjuan dijalanNya(Q.S 29 : 69).  Allah akan menurunkan pintu keberkahan dari langit dan bumi untuk hambanya yang beriman dan bertakwa (Q.S. 7 : 96 )

Maka tidak perlu ragu-ragu lagi ketika ketika kita ingin berbuat kebaikan, terutama ketika kita mau mepertahankan Visi kerakyatan dan Keummatan, terutama dalam menetapkan Biaya Pendidikan yang dibebankan kepada Orang Tua Murid.

Keduabelas :

Hitungan matematis itu penting, untuk mengkalkulasi biaya pendidikan, tetapi tidak kemudian kita menjadi seorang yang matrialistis, tidak percaya kepada pertolongan Allah SWT, ketika kita ingin membantu sesama saudara kita. Jangan menjadikan hitungan matematis sebagai satu satunya standar untuk menetapkan pembiayaan. Apalagi ketika kita berbicara pendidikan yang jelas jelas sebuah aktifitas soasial kemanusiaan, yang dikelola oleh lembaga Nirlaba atau Non profit.

Jangan menuggu pertolongan Allah secara Riil sebelum kita mencoba memenuhi syarat-syarat yang telah Allah Tetapkan terhadap janji-janjinya, karena semua janji Allah SWT bersyarat. Mudah-mudahan kita terhindar  dari sifat kaum Nabi Musa sangat matrialistik empirik, mereka baru mau percaya Tuhan kalau sudah dilihat dengan mata kepala sendiri

(Q.S. 2 : 55 )

Subang,  10 Jumadil Awal  1437 H

19 Februrari  2016-02-18

by : Abdullah Muadz
Bumi langit dan semua isi yang terkandung didalamnya termasuk diri kita adalah milik Allah SWT milik Allah, ayatnya begitu banyak silahkan buka Al-Qur’an lagi…

Manusia bukan pemilik, lahir ke dunia tanpa selembar benangpun, mati juga hanya membawa kain kafan. Tidak sepantasnya punya obsesi untuk memiliki sesuatu. Kebahagiaan dan kenikmatan tidak harus dengan jalan memiliki.

Yang paling menikmati rumah megah dan mewah mungkin para pembantunya..
Yang paling manikmati villa-vila mewah mungkin para penjaganya, ,
Yang paling menikmati gonta ganti mobil mungkin para da’i atau penceramah dengan jemputan panitianya. Jadi ketika kita bisa menikmati sesuatu tidak harus berfikir memiliki..

Berbagai kasus konflik dari yang kecil misalnya rebutan waris, sampai yang paling besar perang antar negara, sebagian besar sebabnya adalah soal kepemilikan..
Rusaknya persaudaraan, ributnya organisasi, pecahnya kongsi dagang, sebagian besar adalah karna soal kepemilikan, ,

Sebaliknya kebahagiaan banyak didapatkan sebagian besar oleh orang yang tidak memiliki apa apa.. lihat fakta sejarah. Kematian tragis dan mengenaskan atau kisah-kisah tragis sebagian besar adalah orang yang banyak memiliki apa apa.

Konflik pertama yang menjadi tragedi manusia angkatan pertama anak-anak Nabi Adam adalah soal kepemilikan. Penyakit hasad bisa menghanguskan semua amal kita, berasal dari paradigma yang salah soal kepemilikan.

Akankah kita lari dari fakta-fakta tersebut ? disisi lain ada manusia yang rela diatur oleh ideologi sosialis yang meniadakan sebagian besar hak kepemilikan. Ideologi sosialis memang bertentangan dengan islam karena menutup fitrah manusia yang ingin memiliki, tetapi itu adalah sebuah fakta pilihan untuk menekan kesenjangan, dengan cara diluar Islam. Terbukti dapat mengatasi kesenjangan dan meredam konflik masyarakatnya

Islam tidak membatasi hak kepemilikan, kecuali yang memang sudah dibatasi Allah SWT melalui kitab suciNya, karena itu adalah fitrah manusia ingin memiliki, sepanjang cara pendapatkannya, cara pengeluarannya, dan bagian-bagian kewajiban terhadap hartanya dipenuhi..

Tetapi Islam juga tidak menutup orang yang ingin mengambil jalan hidup sederhana seperti Rasulullaah membiarkan gaya hidup Abu Zar al-Ghifari. Sementara itu Rasulullaah sendiri sebagai kepala negara sampai akhir hayatnya mengambil jalan hidup sederhana. Padahal Beliau pernah menjadi pedagang sukses yang kaya raya, terbukti dengan emas kawin yang diberikan kepada Khodijah yang luarr biasa..

Tetapi setelah diutus menjadi rasul dan sekaigus menjadi publik figur, Beliau mencontohkan gaya hidup sederhana. Sebagai kepala negara beliau sering kelaparan, sering ganjal perut dengan batu pakai ikat pinggang, pernah solat rakaat berikutnya gak kuat berdiri karena menahan lapar, pernah puasa sunnah niatnya baru siang karena tidak makanan siang, , dll

Seorang Umar bin khottob mantan preman, harusnya tegar, tetapi bisa nangis tersedu ketika masuk kedalam rumah Rasulullah, kepala negara yang tidak punya apa-apa kecuali baju perang dan tiker dari pelepah kurma,

Rasulullah meninggal sebagai kepala negara tidak banyak mewariskan harta benda kepada anak anaknya. Sekedar memenuhi permintaan anaknya Fathimah untuk memiliki pembantu, untuk menumbuk tepung gandum, karena tangannya lecet, Beliaupun menolak.
Kita akan mendapat deretan cerita panjang orang-orang yang mencari kebahagiaan dengan jalan mengambil cara hidup sederhana. Masihkah kita ragu ?

Semakin banyak yang kita miliki, semakin banyak beban fikiran yang harus kita tanggung, baik untuk menjaga, melindungi, melengkapi, merawat, memelihara, menggunakan, membelanjakan, mangatur, memanfaatkan, membagi, mewariskan, mempertanggung jawabkan, dan segudang beban lainnya…

Kebahagiaan, kesedihan, itu ada dihati, semantara panca indra dan akal fikiran yang akan terus memberi masukan-masukan kepada hati untuk bisa mengolah sebagai bahan pertimbangan. Jika bahan masukannya lebih banyak beban-beban fikiran serta rangsangan Indra yang berhadapan dengan serba materi, maka bisa dipastikan hati akan tidak kuat mengolah untuk mencari rumus kebahagiaan yang sejati. Kareana semua akan menuntut, tanpa ada ujungnya…

Begitu mata melihat baju, maka fikiran yang berkembang memenuhi tuntutan baju mulai dari Mesin cuci, ember, sikat, gayung, keran, selang, mesin pompa air, sabun cuci, cairan pewangi, jemuran, jepitan, hanger, keranjang, sterika, meja sterika, lemari pakaian, kamper, jarum, benang, mesin jahit, motor pengerak mesin, listri dan seterusnya…. tanpa akhir, tanpa ujung, terus menuntut…

Jadi dimana letaknya kebahagiaan.. itu.???