Home Blog Page 6

Visi dan Misi As-Syifa

0

Visi Yayasan sebagaimana termaktub dalam Anggaran Rumah Tangga Yayasan adalah: Terdepan dalam Membina, Membangun, dan Melayani Masyarakat.

Visi di atas harus diwujudkan oleh seluruh stakeholder yang ada di Yayasan, adapaun penjelasan visi sebagai berikut:

Terdepan :  Menjadi pelopor dan model inovasi pendidikan, dakwah dan sosial secara Nasional dan Internasional yang sejalan dengan nilai-nilai Qur’ani, Pancasila dan UUD 1945 dalam bingkai NKRI.

Membina : Mengerahkan dan mengarahkan segenap dana dan upaya yang konstruktif, produktif dan suistanable dalam mengangkat harkat dan martabat manusia.

Membangun  : Berarti mampu membangun networking (jaringan) dengan prinsip kolaborasi dan kemitraan yang egaliter

Melayani : Pengabdian yang diwujudkan dalam bentuk pelayanan dan pemberdayaan/ empowering masyarakat agar lebih berdaya guna.

Masyarakat  : Stakeholder (orang tua/ wali murid, murid/ santri, pegawai, masyarakat sekitar, pemerintah setempat), mitra (swasta dan pemerintah daerah dan pusat) dan binaan (Warga Indonesia Berdaya).

Visi tersebut diwujudkan melalui 6 (enam) misi Yayasan, yaitu:

  1. Menyelenggarakan pendidikan unggulan kebanggaan umat.
    Menegaskan komitmen As-Syifa membangun dan mengelola lembaga-lembaga pendidikan yang menyeluruh, modern, dan berdaya saing global dari tingkat usia dini hingga perguruan tinggi yang berfokus pada karakter Qur’ani, akademik unggul, dan jiwa kepemimpinan umat.
  2. Mengembangkan model dakwah rahmatan lil ‘aalamiin yang berkelanjutan dan mempersatukan.
    Menegaskan komitmen As-Syifa menjadi pusat dakwah nasional yang mampu membawa nilai rahmat dan persatuan di tengah masyarakat dengan pendekatan dakwah bersifat ilmiah, sistematis, dan kolaboratif.
  3. Menyelenggarakan aktivitas sosial berdampak, serta layanan kesehatan berkualitas dan terjangkau.
    Menegaskan komitmen As-Syifa dengan menumbuhkan peran sosial As-Syifa sebagai lembaga pemberdaya umat yang peduli terhadap kesejahteraan masyarakat melalui kegiatan filantropi dan pelayanan kesehatan Islami berbasis preventif, promotif, dan kuratif.
  4. Mewujudkan sumber pendanaan yang menunjang kemandirian Yayasan. Menegaskan komitmen As-Syifa membangun ekosistem keuangan internal yayasan yang kuat, mandiri, transparan, dan berkelanjutan untuk mendukung seluruh kegiatan pendidikan, dakwah, dan sosial tanpa ketergantungan eksternal berlebihan.
  5. Memperkokoh manajemen lembaga yang profesional dan akuntabel. Menegaskan komitmen As-Syifa mewujudkan tata kelola lembaga yang efektif, efisien, transparan, dan berbasis kinerja, serta didukung oleh SDM kompeten, sistem IT yang terintegrasi, dan budaya kerja yang berakhlak.
  6. Memperkokoh sinergi dan kolaborasi dengan lembaga mitra untuk membangun citra positif Yayasan.
    Menegaskan komitmen As-Syifa dalam memperbaiki dan memperkokoh hubungan dengan masyarakat sekitar, tokoh masyarakat baik daerah, nasional dan internasional. Membangun jejaring kerjasama yang luas, produktif, dan saling menguatkan dengan lembaga pendidikan, sosial, pemerintah/ swasta untuk memperluas kebermanfaatan As-Syifa dan meningkatkan kepercayaan publik.

Tentang As-Syifa

0
Banner 2026 scaled
Profil Singkat Yayasan As-Syifa Al-Khoeriyyah

Yayasan As-Syifa Al-Khoeriyyah merupakan sebuah lembaga non pemerintah (NGO) yang bersifat nirlaba– lebih lanjut disebut Yayasan. Bergerak dalam ranah pendidikan, dakwah, dan sosial. Yayasan didirikan tahun 2003 dengan nama “Yayasan Islam As-Syifa Al-Khoeriyyah/ Tambakmekar” melalui Akta Pendirian pada Tanggal 4 Januari 2003. Kiprah sosial menjadi langkah pertama, dilanjutkan dengan beasiswa yatim dan peningkatan kualitas sarana prasarana ibadah menjadi fokus kerja Yayasan.

Peran Pendiri dan Awal Kiprah di Indonesia

FOTO NEW pa dokterCikal bakal Yayasan As-Syifa Al-Khoeriyyah tidak terlepas dari peran besar dr. Suleiman Omar S. Qush, seorang warga negara Qatar. Pada tahun 2000, beliau berkunjung ke Indonesia atas rekomendasi dari salah seorang staf Kedutaan Besar Republik Indonesia di Qatar, untuk melakukan terapi kesehatan air panas alami di daerah Ciater Kabupaten Subang.

Sejarah kiprah beliau di Indoensia, dimulai pada tahun 2000, awal mula beliau berkunjung ke Indonesia untuk melakukan terapi kesehatan air panas alami di daerah Ciater Kabupaten Subang. Proses terapi ini atas rekomendasi dari salah seorang staf Kedutaan Besar Republik Indonesia di Qatar.

Selama menjalani terapi, beliau berinteraksi dengan penduduk setempat. Kondisi sosial yang beliau saksikan, menyentuh empatinya untuk berkontribusi memberikan solusi atas permasalahan yang dihadapi masyarakat sekitar tempat tinggalnya di Ciater. Ketika melihat ada sekolah tingkat dasar yang mengalami kerusakan, sebagai seorang pensiunan pemerintah Qatar, beliau memahami pentingnya pendidikan bagi masyarakat. Karenanya, setelah berdiskusi dengan para guru serta muridnya, Beliau pun memutuskan untuk membantu merehab sekolah tersebut. Itulah kiprah pertama beliau di Indonesia, yang ke depannya menjadi salah satu kiprah besar beliau di Indonesia sampai saat ini, yakni dunia pendidikan.

Pengalaman di Indonesia yang mengesankan, membuatnya memutuskan untuk melanjutkan terapi kesehatannya di Indonesia. Interaksi yang intensif dengan masyarakat sekitar, ditambah gaya hidupnya yang sederhana, membuat dirinya mendapatkan tempat di masyarakat dan kenal baik dengan tokoh-tokoh setempat. Kesederhanaannya ditunjukkan dengan tidak sungkan menggunakan angkutan kota (angkot). Suatu hal yang jarang dilakukan warga negara asing di Ciater. Dari angkot pula lah, kepekaannya sebagai seorang muslim terusik. Beliau melihat keseharian warga setempat belum sepenuhnya memperlihatkan perilaku seorang muslim. Padahal yang beliau ketahui, mayoritas masyarakat di Indonesia adalah muslim.

Beliau mendapati orang yang bacaan Al-Qur’annya belum sesuai kaidah, wanita muslimah yang belum mengenakan hijab, dan sarana ibadah yang masih minim. Di sisi lain, ekonomi masyarakat belum pulih pasca resesi ekonomi yang menerpa Indonesia di tahun 1998. Kondisi politik dan keamanan masih lábil pasca reformasi. Konflik sosial di Maluku menyisakan masalh dengan banyaknya anak-anak yatim korban konflik. Ragam permasalahan tersebut semakin menguatkan tekad beliau untuk membantu umat Islam Indonesia melalui proses pendidikan, dakwah, dan sosial, khususnya di wilayah Subang Jawa Barat.

Pendirian Yayasan As-Syifa Al-Khoeriyyah

Kiprah beliau mendapat respon positif dari para pegiat dakwah di Subang, salah seorang diantaranya bernama Solehudin Fadjri, yang sejak awal membersamainya dalam berdakwah. Atas saran dari beberapa pihak, di tahun 2000, dr. Suleiman Omar S. Qush memutuskan untuk mendirikan sebuah lembaga non pemerintah (NGO) sebagai wadah kiprah dakwah, pendidikan, dan sosial yang dijalankannya. Yayasan Islam As-Syifa Al-Khoeriyyah menjadi nama lembaga yang didirikan. Mengandung makna filosofis, lembaga yang mampu memberikan solusi/penawar dengan amal kebaikan. Dengan harapan, kehadirannya memberi manfaat bagi kemaslahatan ummat Islam baik di Kabupaten Subang, maupun secara umum di Indonesia.

Pada 12 Desember 2001, Yayasan mendapatkan kepercayaan dari lembaga donatur, Qatar Charity Society Doha, untuk kerjasama lembaga di bidang sosial dan kemanusiaan. Penandatangan dilakukan antara dr. Suleiman Omar S. Qush dengan Ahmad Ali Al-Boainain. Realisasi dari kerjasama tersebut, Yayasan mulai menjalankan aktivitasnya dengan membangun masjid, asrama yatim, sekolah, menyantuni anak yatim, distribusi wakaf Al-Qur’an, program Ramadhan, dan hewan qurban. 

Pengembangan Layanan As-Syifa Al-Khoeriyyah

Tanggal 4 Januari 2003, dr. Suleiman Omar S. Qush memutuskan untuk melakukan restrukturisasi kepengurusan Yayasan. Melalui Akta Pendirian Nomor 01 Tanggal 4 Januari 2003 oleh Notaris Dian Wardianto, SH. Pengurus Yayasan diamanahkan kepada, H. Syaef Makmun, Lc. Sebagai Ketua Umum. Kiprah Yayasan diperluas ke program pendidikan non formal, dengan dirikannya Ma’had Tahfizh Al-Maqdim, yang merupakan cikal bakal dari Lembaga Tahfizh dan Ilmu Al-Qur’an (LTIQ) As-Syifa.

Pertengahan tahun 2004, Yayasan memulai peletakan batu pertama pembangunan komplek pesantren modern di atas tanah seluas 4 hektar. Terdiri dari Masjid Jami’ Syaikhah binti Khalifah As-Suweydi, Gedung serba guna/Aula, Asrama Pesantren Putri, Pusat Kajian & Maktabah 2 lantai dan Guest house. Setahun kemudian tepatnya tanggal 4 Desember 2005 menjadi hari bersejarah bagi penguatan keberadaan Yayasan (itsbatul wujud) dengan diresmikannya komplek tersebut oleh Bupati Subang bersama Duta Besar Qatar.

Komplek pesantren yang baru didirikan menjadi pusat kegiatan Yayasan, yakni kantor sekretariat dan pondok tahfizh Al-Maqdim yang sebelumnya mengontrak di rumah warga. Selanjutnya, secara berturut-turut, didirikan pula sekolah formal di tahun 2005, yaitu TKIT As-Syifa. SMPIT As-Syifa di tahun 2006. Lembaga tahfizh Al-Maqdim pun diubah menjadi LTIQ As-Syifa.

Yayasan Islam As-Syifa Al-Khoeriyyah kemudian berubah nama menjadi Yayasan As-Syifa Al-Khoeriyyah, sebagai upaya melengkapi persyaratan legalitas di Kemenkumham RI, melalui Akta Pendirian Nomor 24 Tanggal 27 Desember 2006 oleh Notaris Asep Subrata, SH. Kepengurusan Yayasan pun di restrukturisasi, dengan mengamanahkan Ketua Umumnya kepada Muhtar Fathony Wahyuddin. Proses legalitas di Kemenkumham RI selesai dengan mendapatkan SK Kemenkumham RI pada tahun 2008 Nomor AHU-167.AH.01.02. Tahun 2008 tertanggal 17 Januari 2008.

Pengembangan lembaga terus dilakukan di berbagai bidang. Seiring dengan bertambahnya kepercayaan donatur dan orangtua santri, Yayasan terus mengembangkan infrastruktur dan suprastukturnya. Gedung sekolah dan asrama ditambah, termasuk sarana pendukung laimnya. Dari aspek suprastruktur, sistem pendidikan tahfizh LTIQ As-Syifa dikembangkan ke arah pendidikan tinggi. Kemudian di tahun 2009, didirikan SMAIT As-Syifa, melengkapi sistem pendidikan formal lainnya yang sudah berjalan.

Untuk mendukung kemandirian lembaga, Yayasan mengembangkan berbagai usaha ekonomi, antara lain usaha pertanian dan peternakan. Juga didirikan minimarket dan pujasera/kantin. Selain itu, kiprah dakwah Yayasan mulai merambah dunia media dengan berdirinya Radio Elshifa di tahun 2007. Layanan kesehatan untuk santri dan civitas Yayasan disediakan dengan berdirinya klinik As-Syifa. Semangat kemandirian tercermin dari Visi yang dicanangkan saat itu, “Menjadi Lembaga Non Pemerintah (NGO) yang Kokoh dan Mandiri dalam Membangun, Membina dan Melayani Masyarakat”.

Di tahun 2011, Kepengurusan Yayasan direstrukturisasi dengan tambahan seorang Ketua Harían. Melalui Risalah Rapat Dewan Pembina Yayasan As-Syifa Al-Khoeriyyah, yang dinotariatkan melalui Notaris Asep Subrata, SH Nomor 21 Tanggal 21 Maret 2011, Pengurus Yayasan diamanahkan kepada H. Abdullah Muadz, S.Pd. M.Sc. sebagai Ketua Umum dan Hj. Lulu Ludiawaty, S.Psi., M.M. Sebagai Ketua Harían.

Penguatan sistem terus dilakukan dengan menyiapkan aturan-aturan yang dibutuhkan guna menunjang kokohnya manajemen lembaga. Regulasi Kepegawaian, Kerumahtanggan, dan Keuangan mulai diterapkan. Sementara pengokohan ke luar, dilakukan dengan membangun jalinan kerjasama antar lembaga. Infrastruktur pendidikan menjadi salah satu bentuk kerjasama yang dikembangkan, seperti pembangunan gedung sekolah dan asrama dengan lembaga mitra, Pesantren Ma’rifatussalam Subang dan Pesantren Ummul Quro Tasikmalaya.

Langkah kemandirian dilakukan dengan optimasi potensi pendidikan, amal usaha, dan fundraising. Dalam menakar kemampuan finansial, Yayasan menerapkan penganggaran tahunan guna mengelola potensi penerimaan dengan proyeksi pengeluaran biaya. Optimasi fundraising dilakukan dengan mendirikan lembaga As-Syifa Peduli secara resmi pada tahun 2011, walaupun inisiasi pembentukannya pada tahun 2009.

Tahun 2015, Struktur Yayasan As-Syifa Al-Khoeriyyah menambahkan tiga Ketua selain Ketua Umum pada susunan Pengurusnya. Ketua Umum diamanahkan kepada H. Abdullah Muadz, S.Pd. M.Sc. Para ketua lainnya adalah H. Sudiman, S.Pd., H. Lalu Agus Pujiartha, MA, dan Hj. Lulu Ludiawaty, S.Psi., MM., Perubahan tersebut dinotariatkan dalam bentuk Pernyataan Keputusan Rapat Pembina Yayasan As-Syifa Al-Khoeriyyah Nomor 19 Tanggal 28 Mei 2015 dengan Notaris Sohibudin, SH. Ketua Umum memperkokoh jalinan kerjasama dengan pihak eksternal, sementara para ketua lainnya memperkokoh manajemen internal dalam layanan pendidikan, dakwah, dan kerumahtanggaan. Visi Yayasan pun mengalami perubahan dengan visi barunya, “Lembaga Terdepan Tingkat Nasional dalam Membangun, Membina, dan Melayani Masyarakat melalui Pendidikan, Dakwah, dan Sosial.”

Kerjasama sistem pendidikan pun mulai diinisiasi dengan kemitraan operasi manajemen sekolah bersama Zamzam Syifa Kota Depok melalui unit usaha Yayasan, ALC (As-Syifa Learning Center). Di internal, pengembangan pendidikan terus dilakukan dengan dibangunnya Kampus Wanareja di tahun 2016 untuk SMPIT dan SMAIT. Selanjutnya, dibangun pula perluasan gedung LTIQ, baik di Jalancagak maupun di Wanareja.  Tanggal 26 April 2018, menjadi momentum bersejarah kedua bagi As-Syifa, dengan diresmikannya Komplek Pendidikan Tamim Almajd, menandai dioperasikannya kampus baru, Wanareja. Peresmiannya dilakukan oleh Duta Besar Qatar untuk Indonesia, Syeikh Ahmad Bin Jassim Mohammed Ali Al-Hamar.

Mei 2019, Yayasan melakukan restrukturisasi dengan perubahan kepengurusan. Ketua Umum diamanahkan ke H. Abdullah Muadz, S.Pd. M.Sc. Para ketua lainnya adalah H. Sudiman, S.Pd., H. Budi Mulia, dan Hj. Lulu Ludiawaty, S.Psi., MM., Sekretaris Abdurahim Casim, M.Pd. dan Bendahara H, Ata Suparta, SHI. Pada Januari 2021, berdasarkan hasil Rapat Pembina yang menghasilkan Anggaran Ruman Tangga, secara operasional, Pengurus Yayasan dijalankan oleh Ketua Umum, Bendahara dan Sekretaris, dan pada November 2021, Pengurus Yayasan dijalankan oleh Ketua Umum, Ketua Harían, Sekretaris, dan Bendahara. Para pengurus tersebut terhimpun dalam bentuk BPH (Badan Pengurus Harían), mereka adalah H. H. Abdullah Muadz, S.Pd. M.Sc. sebagai Ketua Umum, H. Sudiman, S.Pd. sebagai Ketua Harían, Abdurahim Casim, M.Pd. sebagai Sekretaris, dan H, Ata Suparta, SHI sebagai Bendahara.

Tahun 2020, Yayasan As-Syifa Al-Khoeriyyah merayakan milad-nya yang ke-17. Rangkaian syukuran dilakukan secara maraton dari September 2019 dengan menyelenggarakan berbagai event dan penghargaan. Puncaknya, tanggal 11 Januari 2020 diselenggarakan Apel Akbar yang diikuti seluruh civitas lembaga. Acara yang dilakukan di pusat kota Subang, Alun-alun Pemda, dengan upacara bendera dan penganugerahan penghargaan bagi para tokoh dan lembaga di Kabupaten Subang yang telah bersama-sama bermitra dengan Yayasan dalam berkontribusi bagi masyarakat, nusa, bangsa, negara, dan agama. 

Perubahan fungsi kepengurusan terus dilakukan sebagai upaya penyesuaian lembaga dengan kebutuhan manajemen dan organisasi. Guna mewadahi fórum pengambilan kebijakan tertinggi, di tahun 2021 pun dibentuk Badan Musyawarah sebagai wadah musyawarah organ-organ Yayasan serta Penasihat. Badan Musyawarah berhasil menetapkan Anggaran Rumah Tangga Yayasan, yang merupakan bagian penting bagi pengokohan sistem lembaga.

Sejak berdirinya, Yayasan As-Syifa Al-Khoeriyyah terus menjalin hubungan kemitraan dengan berbagai pihak, baik pemerintah, TNI/ Polri, swasta, pengusaha, donatur dalam dan luar negeri. Kemitraan ini dibangun secara egaliter dan hubungan yang saling menguatkan untuk membangun pendidikan, dakwah dan sosial berkualitas dan berkontribusi bagi bangsa dan negara. Ada beberapa tokoh nasional yang pernah hadir di Yayasan As-Syifa Al-Khoeriyyah dalam kurun waktu 5 (lima) tahun terakhir di antaranya; pada tahun 2021, Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto yang pada waktu itu menjabat sebagai Panglima Komando Daerah Militer III/Siliwangi berkunjung ke Yayasan As-Syifa Al-Khoeriyyah dalam rangka kegiatan Bakti Sosial dan Serbu Vaksin dalam rangka penguatan herd immunity. Pada tahun 2022 H. Uu Ruzhanul Ulum yang pada saat itu menjabat sebagai Wakil Gubernur Jawa Barat Periode 2018/2023 turut serta meresmikan Kompleks As-Syifa Al-Khoeriyyah Sagalaherang (As-Syifa 3).

Pengakuan Nasional dan Internasional

Beberapa Tokoh Nasional dan Internasional yang pernah berkunjung ke Yayasan As-Syifa Al-Khoeriyyah, sebagai berikut:
(1) Adiyaksa Dault, Menteri Pemuda dan Olahraga Indonesia 2004-2009;
(2) Ahmad Heryawan, Gubernur Jawa Barat, periode 2003-2008, 2008-2013;
(3) Dedi Mizwar. Wakil Gubernur Jawa Barat, periode 2008-2013;
(4) K.H. Abdullah Gymnastiar, Pengasuh Pondok Pesantren Darut Tauhid Bandung;
(5) Duta besar Qatar untuk Indonesia;
(6) Mr. Bital Mu’jinb Al-Dawsari dan anggota kedutaan;
(7) Mr. Hasan Muhammed wakil duta besar Qatar untuk Indonesia;
(8) Mr. Jasim Al Abduljabar Penjabat Duta Besar Qatar di Indonesia;
(9) Delegasi Kaum wanita dari Qatar Al-Khoeriyah oleh Hasan Al-Muhannad dan didampingi oleh Syikhah Al-Miftah; (10) Delegasi Qatar Al-Khoeriyah dan kedutaan Qatar Untuk Indonesia didampingi oleh Syiekh Muafi Azab;
(11) Delegasi kaum Al-Ka’abi; Jendral Naser dan Jendral Sa’ad Al-Ka’bai;
(12) Delegasi Lembaga Qatar untuk Kegiatan Amal;
(13) Delegasi dari wakaf oleh Muhsen Al Mahmud;
(14) Delegasi dari yayasan Eid Al-Khoeriyah;
(15) Eng. Ahmed Abdullah Al-Emadi serta keluarga;
(16) Tim dari kedutaan Qatar untuk Indonesia didambingi oleh dr. Ahmed Al-Hammadi;
(17) Mayjen TNI Agus, SE MH, Pangdam III/ Siliwangi pada 30 September 2021.

Dari Subang untuk Dunia, Puncak Muker As-Syifa Perkuat Visi Pendidikan, Dakwah, dan Sosial

0

Yayasan As-Syifa Al-Khoeriyyah menggelar Puncak Musyawarah Kerja (Muker) Tahun 2026 sebagai agenda strategis tahunan dalam menetapkan arah kebijakan dan penguatan tata kelola lembaga. Mengusung tema “Islamic Institution Model for Education, Dakwah, and Humanity”, kegiatan ini menjadi ruang konsolidasi sekaligus refleksi atas perjalanan dan capaian yayasan dalam mengembangkan peran pendidikan, dakwah, dan sosial kemasyarakatan. (18/12/2025)

Puncak Muker ini dihadiri oleh Dewan Pembina, Dewan Pengawas, Pengurus Yayasan, seluruh jajaran Direktur dan Manager Departemen, serta para Kepala Sekolah As-Syifa Boarding School. Kehadiran seluruh unsur pimpinan ini mencerminkan keseriusan yayasan dalam membangun keselarasan visi dan sinergi lintas unit, guna memastikan program kerja lima tahun ke depan berjalan terarah, terukur, dan berkelanjutan.

Dalam sambutannya, Ketua Yayasan As-Syifa Al-Khoeriyyah menegaskan bahwa Mukan merupakan puncak dari proses panjang perumusan visi dan misi lembaga yang telah dilakukan secara kolektif. Ia menyampaikan bahwa pada momentum ini diharapkan mampu melahirkan semangat baru untuk membawa As-Syifa menjadi lembaga terdepan, tidak hanya di tingkat nasional, tetapi juga di tingkat internasional.

HMS09847 scaled

“Dari puncak Muker ini, mudah-mudahan kita memiliki semangat baru untuk membawa lembaga ini menjadi lembaga terdepan dalam bidang pendidikan, dakwah, dan sosial,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Ketua Yayasan mengingatkan kembali bahwa Yayasan As-Syifa Al-Khoeriyyah adalah lembaga wakaf, sehingga seluruh insan yang terlibat di dalamnya memiliki tanggung jawab moral dan spiritual yang sama. Nilai keimanan dan ketakwaan, menurutnya, harus menjadi landasan utama dalam setiap langkah pengembangan lembaga, agar seluruh ikhtiar yang dilakukan senantiasa berada dalam koridor ibadah dan mendapat pertolongan Allah SWT.

” Untuk kita ingat kembali sama-sama bahwa lembaga ini adalah lembaga wakaf maka keseluruhan kita adalah karyawan-karyawannya Allah SWT, mudah mudahan kita bisa terus menjaga keimanan dan ketakwaan kita, agar Allah SWT dapat terus membimbing langkah langkah kita kedepan, ” tegasnya.

HMS09530 scaled

Arahan strategis juga disampaikan oleh Ketua Dewan Pembina Yayasan As-Syifa Al-Khoeriyyah, dr. Sulaeman Omar S. Qush. Ia menjelaskan bahwa selama satu bulan terakhir, jajaran pimpinan telah melakukan rapat intensif untuk merumuskan arah pengembangan yayasan lima tahun ke depan. Fokus pembahasan tidak hanya pada peningkatan kinerja dan tata kelola, tetapi juga pada upaya memperkuat kemandirian ekonomi lembaga dan kebersihan lingkungannya.

Namun demikian, ia menekankan bahwa keberhasilan perencanaan sangat bergantung pada implementasi nilai dan budaya lembaga dalam kehidupan sehari-hari.

“Yang paling penting untuk kemajuan lembaga adalah bagaimana kita mempraktikkan budaya As-Syifa dan menjaga nama baik lembaga, mulai dari seluruh lapisan hingga pimpinan tertinggi,” tegasnya.

Sambutan berikutnya disampaikan oleh Dewan Pembina Yayasan As-Syifa Al-Khoeriyyah, Dr. H. M. Hidayat Nur Wahid, M.A., yang juga dikenal sebagai tokoh nasional dan Wakil Ketua MPR RI Periode 2024–2029. Dalam pemaparannya, ia menyampaikan apresiasi atas perkembangan pesat Yayasan As-Syifa Al-Khoeriyyah yang dinilainya sebagai buah dari kerja nyata dan istiqamah seluruh jajaran.

HMS09373 scaled

Ia menilai tagline yang dibangun saat ini “dari Subang untuk Jawa Barat, Indonesia, dan Dunia” menjadi representasi kepercayaan diri lembaga yang lahir dari capaian konkret, bukan sekadar wacana. Sejak berdiri pada 2003 hingga kini, As-Syifa dinilai berhasil menunjukkan kualitas melalui prestasi santri di berbagai tingkatan, keberhasilan lulusan menembus perguruan tinggi unggulan, serta pengembangan potensi santri di bidang akademik maupun non-akademik.

” Percaya diri itu tidak berangkat dari utopia ataupun fatamorgana, tapi fakta. Apa yang dicapai oleh yayasan ini amat sangat harus disyukuri. Bayangkan dari tahun 2003 sampai sekarang, As-syifa sudah menghadirkan bukan hanya cabang sekolahatau santri yang banyak tapi yang juga banyak yang bisa dibanggakan. Salah satunya adalah apa yang dicapai para santri, ada yang menjadi juara di tingkat kabupaten, provinsi, sampai tingkat nasional maupun internasional,” ungkapnya.

” Itu menggambarkan betapa di As-syifa ini anak anak bukan hanya diberikan beragam kegiatan yang bermanfaat tapi juga berkualiatas yang mempersiapkan mereka untuk menjadi pribadi yang berkeunggulan, ” lanjutnya

Menurutnya, capaian tersebut sejalan dengan makna As-Syifa sebagai konsep Qur’ani yang tidak hanya menyentuh aspek spiritual, tetapi juga intelektual dan sosial. Pendidikan yang berkualitas, dakwah yang mencerahkan, serta kontribusi sosial yang nyata menjadi tolok ukur keberhasilan lembaga dalam menjalankan amanah wakaf.

Agenda kemudian dilanjutkan dengan pembacaan dan penetapan kebijakan hasil Muker, yang mencakup penetapan RKAT dan APBY Tahun 2026, pengesahan dokumen rencana bisnis unit, serta penandatanganan kontrak kinerja pimpinan.

Melalui Puncak Musyawarah Kerja Tahun 2026 ini, Yayasan As-Syifa Al-Khoeriyyah meneguhkan komitmen untuk terus melakukan transformasi kelembagaan secara terencana dan berkesinambungan. Dengan menjadikan nilai-nilai Islam sebagai fondasi, yayasan berupaya menghadirkan model institusi Islam yang unggul, adaptif, dan berdaya saing dalam bidang pendidikan, dakwah, dan sosial, serta memberikan manfaat yang semakin luas bagi umat dan masyarakat.

Qatrindo Mandiri As-Syifa Jembatani UMKM Naik Level Pasar

0

Berbagai pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) berkumpul dalam satu ruang inspirasi bertajuk “Gebyar Qatrindo Mandiri 2025”. Acara yang diinisiasi oleh Qatrindo Mandiri, Badan Usaha Milik Yayasan (BUMY) As-Syifa ini bukan sekadar seremoni. Ini adalah wujud nyata dari sebuah institusi pendidikan dan dakwah yang turun tangan langsung merajut ekosistem ekonomi umat.

HMS08884

Direktur Qatrindo Mandiri, Alwin Nasai, nampak sumringah saat melihat aula yang dipenuhi para mitra supplier dan customer. Baginya, Gebyar Qatrindo adalah jembatan yang menghubungkan berbagai titik kepentingan menjadi satu kekuatan ekonomi.

“Gebyar Qatrindo Mandiri merupakan ruang pertemuan antara supplier, customer, dan kami sendiri selaku BUMY. Kami ingin jalinan dengan UMKM mitra As-Syifa menjadi lebih dekat lagi,” ujar Ustaz Alwin.

Ust. Alwin menegaskan bahwa keberpihakan As-Syifa pada UMKM didasari pada realitas bahwa sektor ini adalah tulang punggung ekonomi nasional. “UMKM adalah kearifan lokal yang teruji membangun perekonomian daerah dan menyerap tenaga kerja dengan sangat baik. Itulah mengapa kolaborasi ini menjadi hal penting yang perlu kita jaga,” tambahnya.

HMS08911

Daya tarik utama acara ini adalah hadirnya sosok fenomenal di dunia kuliner, H. Asep Haelusna, pemilik jaringan restoran Asep Stroberi (Astro). Di depan ratusan pelaku usaha, pria yang akrab disapa Haji Asep Astro ini menularkan “virus” optimisme dan strategi jitu scaling up bisnis.

Ust. Alwin menyebut kehadiran Haji Asep adalah bentuk “transformasi nilai”. Tujuannya jelas: agar UMKM Subang tidak hanya jago kandang, tapi memiliki mentalitas untuk naik kelas ke pasar yang lebih luas.

Haji Asep Astro sendiri memberikan apresiasi tinggi terhadap inisiatif ini. Menurutnya, momentum seperti ini sangat krusial agar pelaku usaha merasa terakomodasi. “Penting adanya sebuah event yang mempromosikan produk seperti ini. Mereka merasa terwadahi. Semoga ini menjadi nilai keberkahan bagi Pesantren As-Syifa yang telah menginisiasi acara luar biasa ini,” ungkap sang maestro kuliner tersebut.

Dukungan As-Syifa terhadap ekonomi warga ternyata bukan program instan. Jauh sebelum Gebyar 2025 digelar, Ust Alwin menjelaskan Qatrindo Mandiri telah rutin melaksanakan program binaan atau pembekalan. Mulai dari pelatihan strategi Food Costing, inovasi menu, hingga fasilitasi sertifikasi halal bagi para supplier.

Semua itu dilakukan demi memastikan sirkulasi ekonomi di lingkungan sekitar As-Syifa berjalan dengan standar industri yang mumpuni.

Dukungan ini pun mendapat jempol dari pemerintah daerah. Hari Sobari, Kasi Pemberdayaan dan Pembiayaan UMKM Diskoperindag Kabupaten Subang, mengakui bahwa peran As-Syifa sangat membantu tugas pemerintah dalam pembinaan masyarakat.

HMS08697

“Kami sangat mengapresiasi kontribusi As-Syifa. Ini sejalan dengan program kami di Pemda. As-Syifa tidak hanya memotivasi UMKM di sekitarnya, tapi juga memberikan pembinaan internal bagi unit usaha pondok pesantren hingga ke warga sekitar. Bagi internal As-Syifa, ini menciptakan kemandirian pondok agar tidak hanya fokus di pendidikan, tapi juga bisnis yang berkembang,” tutur Hari.

Melalui Gebyar Qatrindo Mandiri 2025, As-Syifa membuktikan bahwa institusi berbasis agama dan pendidikan mampu menjadi inkubator bisnis yang handal. Ke depan, ust. Alwin berharap kegiatan ini akan semakin besar dan inklusif.

“Mudah-mudahan acara mendatang lebih luar biasa lagi dan semakin diterima oleh UMKM mitra kami,” pungkas Alwin penuh harap.

Di Subang khususnya di sekitar lokasi kampus-kampus As-Syifa, melalui Qatrindo Mandiri para UMKM tidak berjuang sendiri. Mereka kini punya rumah untuk bertumbuh, punya mentor untuk belajar, dan punya ruang untuk memenangkan masa depan.

Sharia Governance in Islamic Financial Institutions : Relevansi dalam Pengelolaan Keuangan Syariah di Sekolah Islam

0

Ata Suparta

Jurnal penelitian yang berjudul “Sharia Governance In Islamic Financial Institutions : a Comparative Review Of Malaysia and Indonesia” oleh Faizi dan Mohd Sollehudin Bin Shuib, mengangkat topik yang sangat relevan dan kritis dalam perkembangan keuangan Islam global, yaitu tata kelola syariah (Sharia Governance) di Lembaga Keuangan Islam (LKI). Tata kelola syariah (Sharia Governance) memainkan peran penting dalam perbankan dan keuangan Islam dengan menjamin kepatuhan terhadap prinsip-prinsip Islam. Tujuan utama tata kelola syariah adalah untuk memastikan kepatuhan, dan meningkatkan kepercayaan publik terhadap standar etika, administrasi, dan kegiatan bisnis LKI (Sori et al., 2015). Ini mencakup serangkaian tindakan struktural yang digunakan oleh Lembaga Keuangan Islam untuk membangun pengawasan yang kuat, akuntabilitas, dan kepatuhan terhadap prinsip-prinsip Syariah dalam kegiatan mereka (SAMA, 2020; Jan & Ismail, 2023). Penulis memilih pendekatan komparatif antara Malaysia dan Indonesia, dua negara dengan pasar keuangan syariah terbesar dan paling dinamis di dunia. Fokus pada perbedaan struktur, kerangka regulasi, dan peran dewan pengawas syariah memberikan peta analitis yang jelas untuk memahami bagaimana kedua negara merespons tuntutan kepatuhan syariah dalam sistem keuangan modern.

Relevansi dalam Pengelolaan Keuangan Syariah di Sekolah Islam

Studi ini dapat memberikan pelajaran penting tentang pengelolaan keuangan syariah di Sekolah Islam: Pertama, pentingnya Tim Ahli Syariah yang independen untuk memastikan bahwa semua aktivitas keuangan, seperti penerimaan dana, operasional, investasi, pembangunan, hal ini akan meningkatkan kepercayaan masyarakat dan akuntabilitas. Sekolah Islam dapat membuat pedoman tata kelola keuangan syariah yang mengacu pada aturan pemerintah. Kedua, transparansi dan pelaporan Syariah : Studi ini menekankan betapa pentingnya transparansi dan pelaporan keuangan berbasis syariah yang mempertimbangkan aspek finansial dan aspek sosial, serta pertimbangan halal dan haram. Ketiga, pengelolaan risiko Syariah: Seperti perbankan, Sekolah Islam juga menghadapi risiko Syariah seperti dalam pengelolaan dana operasional, mengelola dana bantuan pemerintah, atau bekerja sama dengan pihak ketiga. Sehingga dapat menerapkan manajemen risiko syariah. Keempat, meningkatkan kapasitas SDI (Sumber Daya Insani) yang kompeten dalam Pengelolaan Keuangan Syariah, keberhasilan tata kelola syariah sangat bergantung pada kualitas dan kemampuan para pengelola. Sekolah Islam harus memberikan pelatihan dan sertifikasi kepada bendahara, staff keuangan, akunting dan pengawas syariah untuk memahami prinsip-prinsip keuangan syariah.

Sekolah Islam, seperti Pesantren, Madrasah, dan Sekolah Islam Terpadu, menghadapi dua masalah. Pertama, Mereka harus mempertahankan kualitas akademik dan layanan serta menjadi sekolah yang unggul dalam segala hal, termasuk prestasi akademik, adab, dan akhlak siswa. Kedua, Mereka juga harus memastikan bahwa operasional tetap berjalan meskipun memiliki keterbatasan pendanaan. Dalam keadaan seperti ini, pengunaan sistem pengelolaan keuangan konvensional sering terjebak pada pola “bertahan hidup” dengan bergantung pada SPP dan sumbangan sukarela. Dengan adanya sistem Pengelolaan keuangan syariah memberikan solusi dalam pengelolaan keuangan Sekolah Islam, dalam hal pengaturan keuangan sesuai prinsip Syariah serta menunjang pengelolaan keuangan untuk membangun pendidikan berkualitas dan mandiri.

Pengelolaan Keuangan Syariah di Sekolah Islam dalam mengelola pendapatan dan pengeluaran keuangan sekolah berdasarkan pada prinsip-prinsip Islam :

  1. Kehalalan Sumber Dana: Dana yang digunakan berasal dari sumber yang halal dan jelas, tidak menerima sumbangan dari hasil aktifitas usaha haram atau riba.
  2. Transparansi dan Akuntabilitas (Amanah): setiap penerimaan dan pengeluaran tercatat sesuai Standar Akuntansi Keuangan Entitas Privat (SAK EP), serta laporan keuangan dapat dipertanggungjawabkan.
  3. Anti-Riba: Tidak boleh disimpan atau diinvestasikan dalam produk simpanan berbunga, aktifitas usaha non halal. Pengembangan dana harus melalui cara-cara atau usaha halal.
  4. Berorientasi pada Kemaslahatan (Manfaat Umum): Setiap pengeluaran digunakan untuk menunjang operasional sekolah, kegiatan murid, pengembangan sekolah dan peningkatan kualitas kompetensi guru serta kesejahteraan guru dan civitas akademika.

Dalam penerapan Pengelolaan Keuangan Syariah di Sekolah Islam, hal ini dapat meningkatkan kualitas dan kemandirian sekolah : Membangun kepercayaan stakeholder, mendorong kreativitas finansial sekolah yang halal, menjamin kualitas guru dan proses belajar mengajar serta mencetak karakter melalui keteladanan langsung.

Kesimpulan

Pengelolaan Keuangan Syariah yang baik tidak hanya relevan untuk sektor Lembaga keuangan Islam, tetapi juga dapat diterapkan pada sektor pendidikan Islam / Sekolah Islam. Dengan menerapkan prinsip-prinsip serupa seperti independensi dewan syariah, kerangka regulasi yang jelas, transparansi, dan manajemen risiko lembaga pendidikan Islam dapat: Meningkatkan kepercayaan publik dan stakeholder, memastikan penggunaan dana pendidikan sesuai syariah, membangun citra positif lembaga yang amanah dan bertanggung jawab, serta berkontribusi pada penguatan ekosistem ekonomi syariah di Indonesia

Oleh karena itu, para pengelola Sekolah Islam perlu merujuk pada praktik terbaik (best practices) tata kelola syariah dari sektor keuangan, sekaligus menyesuaikannya dengan konteks pendidikan yang lebih luas dan berorientasi pada nilai-nilai keislaman dan kemaslahatan umat. Inilah esensi dari pendidikan Islam yang berkelanjutan: tidak hanya mencetak siswa yang pandai, tetapi juga membangun institusi yang kuat, terpercaya, dan menjadi mercusuar keteladanan di masyarakat.

*Sebagian ide opini ini dibantu oleh mesin AI.

Penulis : Ata Suparta ( Mahasiswa Program Magister Ekonomi Institut SEBI, Depok, Indonesia )

LAZ Assyifa Peduli Raih Penghargaan Zakat Award 2025

0

LAZ Assyifa Peduli kembali meraih prestasi dengan mendapatkan penghargaan Gold Award kategori Optimalisasi Fundraising Berbasis Pesantren dalam gelaran Zakat Award 2025 yang diselenggarakan oleh Forum Zakat. Penghargaan ini diterima langsung oleh Direktur LAZ Assyifa Peduli dalam rangkaian CEO OPZ Forum yang berlangsung di The Acacia Hotel Jakarta, pada Rabu (3/12/25).

“Alhamdulillah, kami sangat bersyukur atas penghargaan ini. Atas izin Allah SWT, kami kembali menorehkan prestasi. Pencapaian ini merupakan bentuk apresiasi atas kerja keras tim LAZ Assyifa Peduli dalam mengoptimalkan potensi pesantren sebagai pusat pemberdayaan umat. Ini menunjukkan bahwa pesantren bukan hanya sebagai lembaga pendidikan dan dakwah, tetapi juga mampu menjadi penggerak kebaikan dan solusi sosial bagi masyarakat. Alhamdulillah, penghargaan ini juga tentunya bisa kami raih atas dukungan penuh dari seluruh jajaran pengurus dan keluarga besar Yayasan As-Syifa Al-Khoeriyyah,” ucap Direktur LAZ Assyifa Peduli, Ustadz Ahmad Sahirul Alim, M.A.

Penghargaan demi penghargaan diraih oleh LAZ Assyifa Peduli dalam berbagai kesempatan. Ustadz Salim, sapaan Direktur LAZ Assyifa Peduli, menegaskan bahwa capaian ini tidak lepas dari dukungan para donatur yang terus membersamai perjalanan program-program yang telah dicanangkan.

“Pencapaian ini tentunya tidak lepas pula dari dukungan Sahabat Peduli sebagai donatur terbaik bagi seluruh penerima manfaat program-program Assyifa Peduli. Untuk para donatur, kami mengucapkan terima kasih atas dukungan dan kepercayaan selama ini. Semoga setiap kebaikan yang Bapak/Ibu titipkan menjadi pemberat amal kebaikan di sisi Allah SWT,” ungkapnya.

Beliau juga mengucapkan terima kasih khususnya kepada fundraiser yang menjadi ujung tombak penghimpunan dana umat ini.

“Tidak lupa ucapan terimakasih untuk fundraiser yang selama ini menjadi ujung tombak dalam penghimpunan dana. Dan untuk para penerima manfaat, kami berharap bantuan ini menjadi penyemangat untuk terus berjuang, bangkit, dan memperbaiki keadaan. Mari kita terus bekerja sama dalam kebaikan, karena keberkahan itu hadir ketika kita saling membantu.”

Ustadz Salim berharap penghargaan ini bukan hanya menjadi jejak prestasi saja, namun juga dapat menjadi penyemangat untuk meluaskan kebaikan.

“Harapan kami, penghargaan ini tidak berhenti pada sebuah prestasi saja, tetapi menjadi pemacu semangat untuk terus berinovasi dalam menghimpun dan menyalurkan zakat, infak, dan sedekah agar semakin tepat sasaran dan berdampak lebih luas. Kami ingin semakin banyak saudara kita yang merasakan manfaat dan kebahagiaan dari amanah yang dititipkan para donatur,” pungkasnya.