alshifacharity.com – Yayasan As-Syifa Al-Khoeriyyah menjadi tuan rumah kegiatan Pengembangan Pangan Pondok Pesantren Binaan Bank Indonesia Wilayah Jawa Barat yang digelar di Ruang Rapat Utama (RRU) As-Syifa, Selasa (12/5/2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari implementasi program penguatan ekonomi dan keuangan daerah berbasis pondok pesantren yang diinisiasi oleh Bank Indonesia sejak tahun 2024.
Program intervensi tersebut menghadirkan lima pondok pesantren binaan Bank Indonesia Wilayah Jawa Barat, yakni Yayasan As-Syifa Al-Khoeriyyah, Al Muslimun Al Musri, Al Munawwar, Miftahul Ridwan, serta Rumah Tahfidz Daarul Hafidz Rancajaya.
Kegiatan ini bertujuan untuk mensinergikan model bisnis yang dapat dikolaborasikan antarpondok pesantren binaan, khususnya dalam sektor pengembangan pangan. Melalui kolaborasi tersebut, diharapkan tercipta ekosistem ekonomi pesantren yang saling terhubung, berkelanjutan, serta mampu memberikan manfaat bagi seluruh pondok pesantren yang terlibat.
Selain itu, sinergi ini juga menjadi langkah strategis dalam mendorong pengembangan usaha berbasis pesantren, mulai dari budidaya pangan, pengelolaan hasil pertanian, hingga penguatan pemasaran dan distribusi produk secara terintegrasi.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Direktur Ekonomi dan Investasi Yayasan As-Syifa Al-Khoeriyyah, Alwin Nasai, S.Ud., Ketua Kopontren As-Syifa, Dedi Rahman, S.E., M.E., serta perwakilan-perwakilan dari Pondok Pesantren Al Muslimun Al Musri, Al Munawwar, Miftahul Ridwan, dan Rumah Tahfidz Daarul Hafidz Rancajaya.

Sekretaris Yayasan As-Syifa Al-Khoeriyyah, H. Budi Mulia, dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan tersebut di lingkungan Yayasan As-Syifa. Ia berharap kegiatan ini dapat mempererat hubungan antarpondok pesantren di Jawa Barat.
“Selamat datang di Yayasan As-Syifa, semoga ini menjadi ajang silaturahmi antar pondok pesantren khususnya yang ada di Jawa Barat,” ujarnya.
Ia juga berharap program yang dijalankan Bank Indonesia mampu menjadi langkah nyata dalam mendukung kemajuan pondok pesantren di masa mendatang.
“Mudah-mudahan apa yang dilakukan oleh Bank Indonesia menjadi langkah untuk kemajuan pondok pesantren ke depan,” tambahnya.

Sementara itu, Asisten Direktur Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Barat, Alnupri Hadi, mengapresiasi sambutan yang diberikan oleh Yayasan As-Syifa Al-Khoeriyyah sebagai tuan rumah kegiatan.
“Kami sangat mengapresiasi dengan sambutan yang diberikan oleh Yayasan As-Syifa, sangat bagus sekali tempatnya,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Alnupri menjelaskan bahwa Bank Indonesia memiliki program infratani yang berfokus pada pengembangan sektor pertanian berbasis teknologi dan integrasi sistem.
“Dari Bank Indonesia, kami memiliki program infratani, bagaimana pertanian itu bisa dikembangkan melalui teknologi dan juga integrasi secara sistem,” jelasnya.
Ia juga menyampaikan bahwa ke depan Bank Indonesia telah menyiapkan proyek pengembangan budidaya organik melalui program MA11. Namun demikian, menurutnya masih diperlukan penguatan kolaborasi antarpondok pesantren agar tercipta model bisnis yang mampu memberikan keuntungan dan manfaat bersama.
“Ke depan sudah ada project dalam bentuk pengembangan budidaya organik melalui MA11, tapi kita masih ada PR dari ponpes yang sudah terlibat ini bagaimana kita bisa mengkolaborasikan dan mensinergikan sebuah model bisnis yang nantinya bisa menguntungkan semua pihak,” ungkapnya.

Setelah sesi sambutan, kegiatan dilanjutkan dengan Focus Group Discussion (FGD) yang dipimpin oleh Plt. Analis KPW BI Jawa Barat, Ibu Zalika Naiser. Diskusi tersebut membahas strategi pengembangan pangan pondok pesantren, integrasi teknologi pertanian, hingga penguatan kolaborasi ekonomi pesantren agar mampu menciptakan sistem usaha yang berdaya saing dan berkelanjutan di Jawa Barat. (Red. Official As-Syifa)



