Akhir-akhir ini, linimasa dibeberapa sosial media diisi oleh protes beberapa orangtua dan sebagian murid yang memprotes sistem zonasi sekolah negeri yang ditetapkan pemerintah melalui Permendikbud nomor 14 tahun 2018. Hal ini menutup kemungkinan calon murid untuk masuk ke sekolah unggulan negeri. Karena peraturan ini berdasarkan jarak sekolah dengan tempat tinggal.
Jadi ingat waktu masih SMP dulu. Tiap hari naik angkot berjarak hampir 10 kilometer tiap hari untuk bisa ke sekolah. Walaupun saya di sekolah Islam swasta, tapi SMP negeri unggulan kebetulan dekat dengan SMP saya. Dan kawan-kawan SD saya dulu banyak juga yang sekolah di SMP unggulan itu yang jarak rumahnya bahkan lebih jauh.
Ok, itu SMP. Saat hendak masuk SMA, waktu itu lagi boomingnya novel Negeri 5 Menara. Sebuah novel yang menceritakan kehidupan seorang santri di pesantren Gontor Ponorogo nun jauh dari kampungnya di Maninjau Sumatera Barat. Gimana nggak tertarik, pas saya SMP kebetulan saya, dan kawan-kawan serta guru-guru saya mengundang penulis novel ini ke sekolah dalam acara talkshow milad sekolah. Apalagi novel ini dijadikan film layar lebar. Makin besar tekad saya buat jauh-jauh pergi dari rumah. Haha…
Kalau di novel, orang tuanya yang memaksa Alif untuk mondok di Gontor, saya kebalikannya. Saya yang minta nyantri di Jawa. Akhirnya saya mulai cari brosur-brosur pesantren terpadu. Mulai yang di Anyer, Bogor, Kuningan, Lembang dan Subang. Saya pilih yang di Subang. Bukan apa-apa, biayanya lebih murah dan masuknya lebih mudah dulunya. Karena orientasi saya harus nyantri dan jauh dari rumah.
Singkat cerita, saya lulus dan mulai masuk ke pesantren di pedalaman Subang ini. Anak-anaknya memang dari penjuru. Tapi tampaknya kami bukan murid-murid pilihan. Yang daftar pun juga sesuai kuota. Kasarnya mah, kalo daftar dijamin lulus juga. Dan satu lagi yang saya lupa perhatikan. Saya adalah murid angkatan 2. Jadi ini pesantren masih baru. Gedungnya juga baru. Bau catnya masih ingat saya, Catylax mereknya. Hehe…, Jadi, ini pesantren baru. Akreditasi waktu itu belum ada. Guru-gurunya muda-muda. “Kira-kira apakah saya bisa kayak Alif di novel itu ya?” Batin saya.
Kehidupan pesantren saya jalani. Saya masih dengan ekspektasi yang tinggi dari pesantren ini. Tapi saya harus sadar, ini pesantren baru yang belum punya jejak apalagi alumni. Maka di akhir semester 1 saya gamang dan bilang ke ibu saya untuk pindah dari Subang. Saya takut nggak bisa kuliah di PTN, nggak bisa jadi apa-apa.
Akhirnya ibu bawa saya menghadap kepala SMA negeri Unggulan di Bengkulu. Kebetulan ibu juga guru SMP negeri unggulan saingan SMP saya. Hehe… Saat betemu kepala sekolah, ibu sampaikan maksud tujuan kami. Saya pun juga sampaikan keinginan saya, intinya untuk pindah ke SMA ini. Apalagi saya juga ketua OSIS di SMP saya dulu, dan alumni SMP saya banyak diterima di SMA ini ditambah lagi berprestasi. Setidaknya itu jaminan dari saya bahwa saya layak di SMA ini. Kepala sekolah menyambut dengan baik. Tapi syaratnya di semester depan dan dengan tes khusus sesuai standar sekolah. Apalagi SMA ini banyak meluluskan siswa ke PTN terbaik di Indonesia. Ok, saya tenang bakal keluar juga dari penjara suci itu.
Saat kembali, saya sampaikan itikad saya pada guru di pesantren. Mereka tampak kaget dengan keputusan saya. Dan ibu saya malah sudah konsultasi lebih dulu ke guru BK. Intinya supaya saya bisa bertahan di Subang. Dan itu pinta ibu saya. Walau ibu saya guru sekolah negeri, tapi sangat peka soal pendidikan agama. Dan saya tersentak dengan nasihat ustadz besar di pesantren, bahwa di mana pun kita berada, maka di situlah kita semestinya berjuang. Kalau belum baik lingkungan kita, harusnya kita jadi pelopor kebaikan di sana juga. Jleb. Saya terlalu banyak menuntut dan terlalu tinggi dengan ekspektasi. Sulit sekali menerima realita.
Dengan nasihat itu, saya sangat gamang untuk pindah. Akhirnya istikharah dan nasihat keluarga saya seharusnya bertahan, karena saya yang memulainya. Dan ini kesempatan saya menjadi pelopor di tengah kekurangan. Dan saya pun tetal bertahan. Saat jadi ketua OSIS di pesantren, Konsolidasi dengan teman yang punya keresahan yang sama kami lakukan. Saran-saran kepada pesantren kami sampaikan. Mulai dari guru sampai kepala sekolah. Pesantren menyambut dengan baik. Dan kami sama-sama berikhtiar. Kami sering ikut perlombaan dan juara, sedang pesantren berjuang meraih akreditasi di tahun itu.
Puluhan prestasi kami raih dalam waktu singkat. Mulai tingkat kabupaten sampai nasional. Ini tidak lepas dari sinergi antara pesantren dan murid-muridnya yang saling menyokong. Walaupun sering juga kurikulum berganti-ganti karena kami juga murid percobaan. Hehe…, tak apa. Yang penting generasi selanjutnya lebih baik dari kami sebagai angkatan awal.
Akreditasi A diraih dan prestasi mulai terlihat. Pesantren kami jadi perhitungan diantara sekolah-sekolah di Subang dan Jawa Barat. Alhamdulillah. Namun buat saya dan kawan-kawan di tahun akhir adalah soal kegamangan untuk masuk perguruan tinggi. Apakah kami bisa masuk PTN keren? Saya sempat pesimis lolos dengan SNMPTN undangan waktu itu Apalagi angkatan 1 putri waktu itu cuma 1 orang yang lolos SNMPTN. Di tambah nilai saya yang tidak suistain, dan pilihan saya terlalu tinggi. Akhirnya saya tidak lolos SNMPTN. Alhamdulillahnya, belasan kawan saya lolos di PTN dan PT terbaik. Karena pilihan saya harus PTN. Sudah cukup pendidikan sekolah swasta selama ini. Tentunya melihat kondisi orang tua.
Dan saya pun ambil kesempatan SBMPTN dan lolos di Ilmu Politik FISIP Unpad. Sebagai murid percobaan, saya rasa ini perjuangan yang sangat berat. Saat pulang ke pesantren lagi, terakhir pendaftar sudah dengan perbandingan 1:14. Edan, udah kayak masuk PTN saja. Prestasi sudah makin banyak sampai piala-piala tidak tertampung lagi di lemari pajang. bukan kabupaten, provinsi atau nasional. Tapi tingkat internasional juga ada. Dan alumni pesantren saya makin keren dan kece-kece. Bahkan ketua BEM IPB dulu teman sekamar saya waktu pesantren dulu. Haha…, menjadi pelopor tentu menjadi teladan.
Allah menempatkan kita bukan di mana kita inginkan. Tapi di mana kita dibutuhkan.
Setiap organisasi atau lembaga pasti memiliki pemimpin. Mulai dari pemimpin yang tertinggi, seperti CEO, sampai para manajer divisi atau tim kerja sebagai pemimpin unit yang terkecil.
Tapi, semua pemimpin harus memiliki konsep kepemimpinan yang baik. Dengan demikian, para pemimpin bisa merumuskan gaya dan cara kepemimpinan yang akan dilakukan. Gaya dan cara kepemimpinan ini sangat penting bagi kemajuan tim kerja. Jika salah menerapkan gaya dan cara kepemimpinan ini, maka bisa berpengaruh kurang baik bagi performa tim kerja.[prasenta]
Maka dari itu akan pentingnya point Kepemimpinan serta manajerial tersebut, Bagian Pengembangan Kurikulum As-Syifa Al-Khoeriyyah Jum’at s.d Sabtu (29-30/06/18) mengadakan kegiatan Training For Leader (TFT) bagi Para Kepala Sekolah serta Para Wakil Kepala Sekolah dari tingkat PAUD, MDTA, SMPIT dan SMAIT As-Syifa Boarding School Jalancagak dan As-Syifa Boarding School Wanareja.
Kegiatan TFT ini secara resmi dibuka oleh Ustadz Sudiman, S.Pd selaku Ketua I Bidang Pendidikan dan dilanjutkan sambutan oleh ketua Badan Pengembangan Kurikulum Ustadz Feri Rustandi, S.Pd.
Adapun pemateri dalam kegiatan ini diisi oleh Bapak Erwin Kurnia Wijaya, M.Pd dan Bapak Dedi Supriyadi, S.Pd. MM yang pada pelaksanaan tahun ini bisa berbagi pengalaman dan materinya yang menjadi ilmu, wawasan dan pengalaman baru bagi setiap peserta kegiatan.
Insya Allah kegiatan TFT ini secara Reguler dilaksanakan setiap tahun oleh Yayasan As-Syifa Al-Khoeriyyah dengan tujuan untuk meningkatkan kemampuan manajerial Para Kepala Sekolah/Kepala Bagian serta Wakil Kepala Sekolah dalam menjalankan tugasnya. [Humas As-syifa]
Suasana penuh dengan nuansa religius, kebahagiaan dan kekeluargaan mewarnai kegiatan Apel Akbar sekaligus Halal bi halal Keluarga Besar Yayasan As-Syifa Al-Khoeriyyah yang dilaksankan pada Kamis, 28 Juni 2018 bertempat di Lapangan SMPIT As-Syifa Boarding School Wanareja dan Lapangan SMAIT As-Syifa Boarding School Jalancagak.
Kegiatan Apel Akbar ini diikuti oleh seluruh Jajaran Pengurus Yayasan, Kepala dan Wakil Kepala Sekolah, Para Ketua Bagian, Para Ketua Unit, serta seluruh Keluarga Besar Yayasan As-Syifa Al-Khoeriyyah.
Dalam kegiatan Apel Akbar ini dilaksanakan dengan agenda Pembukaan, Pembacaan Ayat Suci Al-Qur’an, Pembacaan Ikrar Pegawai As-Syifa, Taujih dari pembina Apel yang diwakili oleh Ustadz Sudiman, S.Pd selaku Ketua I Bidang Pendidikan dan Ustadz Lalu Agus Pujiarta, Lc, MA selaku Ketua II Bidang Dakwah dan Sosial, Pengenalan Pegwai Baru Yayasan As-Syifa sekitar 200 Orang.
Acara diakhiri dengan bersalaman yang diawali oleh Jajaran Pengurus Yayasan dan diikuti Kepala dan Wakil Kepala sekolah, Para Kepala Bagian, para Kepala Unit dan segenap Keluarga Besar Yayasan As-Syifa Al-Khoeriyyah. [Humas As-Syifa]
Program Pembagian Kado Lebaran untuk Dhuafa kembali diselenggarakan oleh As-Syifa Peduli, Selasa (05/06) bertempat di Aula Yusuf Yayasan As-Syifa Al-Khoeriyyah.
Dimana sebanyak 350 kado lebaran dibagikan kepada 350 dhuafa yang terbagi dari beberapa desa di sekitaran As-Syifa Al-Khoeriyyah.
“Berbagi Kepedulian, Menebar senyuman” terangkat dalam setiap kegiatan yang selalu teriring dengan para donator dan mitra lembaga untuk berbagi dan peduli melalui dana Infaq, Sadaqah, dan Program Ansyithah Ramadhan yang tiap kegiatannya Alhamdulillah menghadirkan setiap senyuman bagi setiap masyarakat yang membutuhkan.
Kami Haturkan Syukron Wa Jazakumullah Khaeran Katsira kepada Mitra dan Relasi Yayasan As-Syifa serta seluruh Donatur yang telah ikut berpartisipasi guna terselenggara suksesnya acara tsb.
Semoga Allah SWT, senantiasa memberikan limpahan keberkahan dan kelapangan rezeki untuk bapak/ibu donatur semua. Amiin Ya Allah Ya Rabbal Alamin
Ramadhan Peduli, Ramadhan Berbagi
Salurkan Donasi Zakat Fitrah & Infaq Ramadhan anda melalui As Syifa Peduli :
Bank Syariah Mandiri
702.0373.061
a.n As Syifa Peduli
Panitia Ansyithah Ramadhan 1439 H menggelar Ifthar Jama’I (Buka Puasa Bersama) di Lapangan SMAIT As-Syifa Boarding School Putri, Ahad (03/06/2018). Kegiatan ini dihadiri Oleh Jajaran Pengurus Yayasan, Para Kepala Bagian, Kepala Sekolah, Wakil Kepala Sekolah, Kepala Unit, tamu undangan serta segenap Keluarga Besar Yayasan As-Syifa Al-Khoeriyyah.
Ifthar Jama’i merupakan salah satu rangkaian kegiatan Ansyithah Ramadhan 1439 H dengan tema “Ramadhan 1439 H Menuju Kemenangan Ummat”. Kegiatan ini di isi dengan Tausyiah oleh KH. Ade Sugianto yang dilanjutkan dengan pemberian Reward Pegawai dan penyerahan Kado Lebaran untuk Keluarga Besar Yayasan As-Syifa Al-Khoeriyyah.
Sementara itu Ketua Pelaksana Panitia Ansyithah Ramadhan 1439 H, Ustadz H. Solehudin Fadjri, S.Pd.I, dalam sambutannya mengungkapkan, “kegiatan Ifthar Jama’I ini merupakan rangkaian kegiatan Ansyitah Ramadhan 1439 H yang bisa menjadi salah satu momentum silaturrahim akbar seluruh keluarga besar Yayasan As-Syifa Al-Khoeriyyah.
“Ifthar Jama’I yang diselenggarakan ini memiliki tujuan untuk media Silaturrahim Akbar dan kegiatan musafahah sebelum agenda libur keluarga besar dilakukan.” tambahnya.
Dalam kegiatan ifthar jama’i ini juga diberikan reward kepada beberapa pegawai Yayasan As-Syifa Al-Khoeriyyah diantaranya : Reward Kinerja Amalan Yaumiyah terbaik selama 3 Bulan terakhir yaitu Tilawah terbanyak baik ikhwan dan Akhwat, Shalat Dhuha terbanyak baik Ihwan dan Akhwat serta Tahajud terbanyak baik Ikhwan dan Akhwat, Serta diberikan reward kepada pegawai yang masa pengabdian (masa kerja) telah mencapai 10 Tahun atau lebih di Yayasan As-Syifa. Dalam kegiatan ini juga dimeriahkan oleh penampilan “Secret Nasyid” dan juga pembagian doorprize.
Kegiatan Ifthar Jama’i ini di akhiri dengan kegiatan Ifthar atau berbuka dan Shalat Maghrib Berjama’ah seluruh keluarga Besar Yayasan As-Syifa Al-Khoeriyyah.
Alhamdulillah secara keseluruhan kegiatan ini berjalan dengan lancar dari awal sampai akhir,semoga kedepannya kegiatan ini bisa berjalan lebih baik lagi dan penuh kesan positif bagi seluruh keluarga besar Yayasan As-Syifa Al-Khoeriyyah. [Humas_Assyifa]
Ekstrem Kanan Sebuah Fenomena Neo Khawarij – Sebuah kelompok kajian yang selalu mengklaim paling Sunnah, memberikan materi ta’limnya dalam sebuah kajian tentang politik penuh dengan kebencian, buruk sangka dan bicara tanpa dalil, fakta dan data, karena emosi yang tidak terkendali.
Ketika menuduh kelompok lain penuh dengan pembodohan, kebencian, jauh dari fakta dan data, kemudian tidak bisa membedakan mana yang general dan mana yang kasus, semua dipukul rata. Akibatnya merasa punya kapling di surga dan hanya kelompoknya yang punya kunci pintu surganya, semua kelompok lain dianggap neraka, dengan hujatan dan caci maki yang sangat melampaui batas.
ekstrem kanan neo khawarij
Semua Politikus Ambisi Kekuasaan.???
Persis seperti kelompok Syi’ah, menuduh para shahabat yang berkumpul di Tsaqifah bani Sa’idah sebagai orang yang berambisi dan rakus jabatan. Menurut kelompok Sunnah itu semua yang berkiprah dibidang poltik dipukul rata adalah orang yang rakus dan ambisi jabatan. Sudah mensejajarkan dirinya dengan Allah SWT yang tahu setiap hati orang, jadi seolah olah dia tahu bahwa tidak ada satupun politikus yang punya niat baik.
Nafsu dan kebencian yang sedemikian rupa sampai lupa menghakimi hati orang yang harusnya hanya Allah SWT saja yang tahu niat dari masing masing seseorang. Kemaksiatan yang begitu besar, masif, masal dan sistematik, dibeking oleh kekuatan gelobal tidak dilihatnya. Tetapi hati orang seolah-olah bisa diterawangnya.
Politik itu Hina, Kotor dan Najis ..???
Berulang ulang diucapkan bahwa politik itu urusan dunia yang terlalu kecil dan sangat hina, sehingga semua orang yang memperebutkan politik adalah orang yang paling hina didunia ini. Orang yang paling bersih adalah orang yang hadir dimajelis kajian islam kelompoknya terus mengamalkan sunnah sunnahnya.
Hal ini persis seperti orang yahudi yang menuduh Rasulullah SWT orang yang tidak pantas jadi Nabi dan Rasul, karena berjalan jalan di pasar, karena pasar tempatnya setan, banyak penipu dan yang berbuat curang dalam timbang menimbang. Sebagaimana Allah SWT lukiskan ejakan orang yahudi kepada Nabi Muhammad SWT dalam surah Al-Furqan ayat 7 :
“ Mengapa Rasul ini memakan makanan dan jalan di pasar pasar ….”
Mengeneralisir semua aktifitas dipasar itu kotor dan semua orang yang masuk didalamnya hina, sama dengan dengan menggenalisir politik. Kemudian mata hatinya buta akan fakta dan data tentang kemaslahat yang begitu banyak ada didalamnya. Karena mengukur mashlahat mudharat menggunakan Ijtihad Pribadi bukan berdasarkan Ijtihad kolektif (Ijma). Sehinngga penuh dengan tuduhan dan tidak melihat kemashlahatan yang begitu banyak. Sebaliknya dia mampu melihat hati seseorang, sehingga memvonis bahwa semua yang terlibat aktifitas politik adalah orang yang rakus dan ambisi jabatan.
Penafsiran Hizbiyah seenak perutnya…
Secara bahasa memang Hizb bisa diartikan partai, otomatis anggota dan pengikut partai bisa disebut Hizbiyyah. Sementara jika Hizbiyyah artikan lebih luas yang dalam Al-Qur’an adalah golongan atau kelompok. Dan yang dilarang dalam dalam surah Ar-Ruum ayat 32 adalah merasa bangga atau fanatik terhadap golongannya.
Allah SWT berfirman :
“ Orang-orang yang memecah belah agama, dan mereka menjadi beberapa golongan, setiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongannya. “
(Surah ArRuum, ayat 32 )
Apa salahnya seseorang yang mau berdakwah masuk digedung parlemen, di pasar, di tempat pelacuran, di cafe cafe, di Lembaga Pemasyarakatan dan lain lain, mereka mau bergaul, tidak merasa dirinya lebih pintar, lebih suci. Sementara aturan yang berlaku baik resmi atau konvensional mengharuskan kita memakai payung hukum berupa lembaga atau oraganisasi untuk bisa diterima ditempat tempat tersebut.
Jadi lembaga tempat bernaungnya para da’i bukan untuk jadi sesuatu kebanggaan, apalagi tujuan, tetapi sekedar payung hukum agar dakwahnya bisa diterima. Buktinya mereka tidak ada yang merasa lebih dari orang lain, sehingga mudah bergaul dengan siapa saja, dimana saja, kapan saja.
Sebaliknya orang yang katanya Anti Hizbiyah, kajian pertamanya tentang “ Bab Ilmu “ padahal isinya mejelek jelaknya kelompok lain karena didalam thema tersebut ada syarat orang yang boleh memberi kajian hanyalah orang dari kelompok mereka, sementara yang lainnya ahlul bid’ah yang harus disingkirkan. Inilah yang namanya maling teriak maling.
Hari hari kajiannya penuh caci maki terhadap orang yang sudah taubat, sholat zakat, padahal maksiat yang begitu besar, masal, masif, dan sistematik didukung oleh para penjajah asing, sedikit sekali mendapat porsi pembahasan kajiannya. padahal Allah SWT berfirman :
“ Jika mereka sudah bertaubat, mendirikan sholat dan menunaikan zakat, maka mereka itulah saudaramu seagama….” ( Surah At-Taubah ayat : 11 )
Ketika buku Ustadz Abdus Somad terbit yang judulnya “37 masalah agama” seketika dalam waktu singkat muncul bantahan bantahannya. Sementara ada puluhan cabang ilmu tentang bagaimana “memberantas mafia narkoba “ puluhan cabang ilmu tentang : “ bagaimana memberantas para perampok kekayaan negeri ini “, dan sebagainya, hampir tidak pernah ada yang membahas atau menulis.. ???
Mencela Pemimpin atau Amar Ma’ruf Nahi Mungkar
Entah sengaja tidak mau melihat fakta atau memang hatinya yang sudah berkarat, lagi lagi mengeneralisr setiap kegaduhan publik selalu diartikan mencela pemimpin..?
Mencela itu biasanya diartikan menyebut nama, kemudian menyebut sifat sifat negatif bawaan sejak lahirnya baik fisik maupun mentalnya, hal ini jelas terlarang, haram hukumnya.
Sementara kemaksiatan yang begitu jelas, gamblang, nenggel, menabrak nash nash yang Qath’i dan ke Qath’i annya sudah muttafaqun ‘alaih, itu harus dicegah. Hukumnya wajib mencegah kemungkaran, dan akan menjadi terlaknat jika tidak mau mecegahnya, sebagaimana Allah SWT pernah melaknat bani Israil, karena mereka diam ketika melihat kemungkaran berada dihadapannya. Sebagaimana firman Allah SWT :
“ Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putera Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu”. ( surah al-Maidah ayat : 78 -79 )
Bahkan ketika kemungkaran itu sudah terang-terangan dilakukan, dengan rasa bangga, kemudian menyuruh rakyatnya untuk mengikutinya, maka Allah SWT pun menyebut nama Fir’aun, Abu Lahab bahkan diabadikan menjadi surah Al-Lahab.
Marilah kita buka mata hati kita untuk tidak selalu mengeneralisir sesuatu. Memang ada orang yang suka mencela dan kita terus mengingatkan agar berhenti mencela siapapun. Tetapi mencegah kemungkaran itu wajib hukumnya. Dan Sunnatullah nya pasti banyak yang tidak suka jika hawa nafsunya dilarang. Sehingga pasti akan menimbulkan kegaduhan publik. Jadi kegaduhan jangan diartikan sebuah kemudharatan.
Menganggap amal siyasi sebagai perbuatan sia sia
Sedemikian rupa mencela dan memvonis bahwa semua politikus adalah orang yang sedang mencari dunia, berupa kedudukan dan jabatan, semantara dunia itu sangat hina dan sangat kecil dibanding akhirat. Sehingga harus dijauhkan dunia politik dari kelompok mereka. Menganggap semua orang yang terlibat dalam politik orang yang sangat hina, dan melakukan aktifitas yang sia sia.
Mungkin penulis akan ditertawakan jika mengambil Contoh 35 Kemaslahatan yang telah dihasilkan oleh Erdogan di Turki. Penyakit sombong yang sudah terjangkit akan sulit menerima kelibihan orang lain. Penyakit hasad yang sudah berurata berakar akan membenci siapa saja yang punya kelebihan.
Mari kita belajar bagaimana Allah SWT menghargai perbuatan pelacur wanita yang memberi minum Anjing yang sedang kehausan ( HR. Bukhari no. 2363 dan Muslim no. 2244). Bagaimana Allah SWT memberi penghargaan upaya pengembaraan pereman yang sudah membunuh 100 orang, dalam pencarian lingkungan yang baik ( Imam Bukhari dalam Fathul Bari, 6/373.Imam Muslim dalam Syarah Imam Nawawi, Kitabut Taubah, juz 17 hal. 82.) Bagaimana Allah menghargai amal seseorang walau hanya sebesar sebuat biji
Allah SWT berfirman :
“ Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan). Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula. {Q.s. Al-Zalzalah: 7-8}
Kesombongan adalah Sifat Iblis
Ada kalimat bahwa aktifis dakwah memang tidak punya pekerjaan lain kecuali memang itu, dan kemampuannya hanya itu doang. Merupakan ungkapan sifat sombong yang kemudian diwariskan kepada pengikut pengikutnya. Sehingga wajar saja jika wajah dan gestur tubuh mereka terlihat orang-orang yang menempatkan dirinya menjadi orang orang yang mempunya kelas yang lebih tinggi dari kelompok kelompok lain, serta menganggap rendah kelompok lain.
Hizbiyah yang sesungguhnya adalah kalimat Iblis dalam surar Al’Araaf ayat 12 :
“ Ana Khairam Minhu : Saya lebih baik dari dia (Nabi Adam)”
Jika diartikan lebih luas bisa “ Kelompok saya, golongan saya, manhaj saya, lebih baik dari mereka ” sehingga ada ciri yang paling menonjol yaitu :
Mudah sekali menuduh, menjudge orang-orang diluar kelompoknya.
Aktifitas yang dilakukan diluar kelompoknya dianggap tidak ada satupun yang bermanfaat, apalagi aktifitas politik .
Terjadi mental block yang sangat sulit menerima masukan dari kelompok lain.
Apa saja yang difatwakan dan dilaksanakan diluar kelompoknya sudah pasti salah.
Bergaul dengan semua kelompok dan semua jenis manusia dengan niat ingin berdakwah akan dianggap talbisul haq bil bathil. (mencampur adukan antara yang hak dan bathil )
Talbisul haq bil Bathil lebih berbahaya dari kebathilan itu sendiri sehingga mereka lebih membenci orang yang sudah masuk masjid dari pada gembong norkoba.
Manhaj Warung Kopi
Kemampuannya dalam menafsirkan ayat dan hadits mereka, kita akui paling baik. Kita pun menerima ketika menafsirkan nash nash itu difahami sebagai nilai nilai normatif yang harus kita laksankan.
Akan tetapi ketika Nash nash itu dikonfirmasi kedalam subuah kejadian atau peristiwa faktual inilah yang menjadi masalah. Sebab peristiwa faktual itu membutuhkan data yang lengakap yang terus berkembang, sehingga juga membutuhkan ke shahihan (validitas) bukan hanya Al-Quran dan Sunnah saja yang harus kita pastikan keshahihanya. Supaya kita tidak mudah menuduh kelompok lain.
Nash dalam Al-Qur’an dan Hadits tidak akan mungkin bertambah sampai kiamat, akan tetapi data dan fakta akan terus berkembang. Jadi jangan merasa dirinya paling tahu jika sudah bicara fakta dan data, apalagi memvonis hati seseorang. Kita sangat mengakui kefahaman mereka terhadap Al-Qur’an dan As-Sunnahnya, tapi jangan kemudian juga merasa paling tahu tentang fakta dan data sebagai alat konfirmasi yang bisa menjudge seseorang. Itulah yang menyebabkan seseorang mudah menuduh, memvonis serta memonopoli kebenaran. Menempatkan Teks bukan pada konteksnya.
Tidak Mengeneralisir
Penulis juga tidak ingin ikut ikutan mengeneralisir semua kelompok Sunnah sebagai orang yang suka mencaci maki. Masih banyak diantara mereka yang baik baik. Penulispun banyak bergaul dengan kelompok mereka yang baik baik, bahkan membuat banyak program bersama. Sementara yang menjadi kekhawatiran penuliis adalah jika kelompok yang ekstrem itu berbicara di posting di Medsos, merupakan makanan bergizi yang gratis untuk mereka yang tidak suka Ummat ini bersatu. Padahal persatuan ummat ini sangat dibutuhkan untuk keselamatan NKRI.
Alangkah indahnya para da’i yang beramar makruf nahi mungkar tidak mencela siapapun, sementara para da’i yang dalam kelompok Sunnah tidak mencaci maki sesama da’i. Kita sepakat kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah merupakan satu satunya jalan menuju persatuan. Tetapi tafsir tunggal terhadap konteks ayat merupakan jalan kehancuran, karena itu adalah jalannya para ahbar dan ruhban ( Surah At-Taubah 31). Penafsiran itu dianggap sahih jika berasal dari kelompoknya, tidak boleh ada penafsiran dari kelompok lain… maka sampai kiamatpun ummat ini akan sulit bersatu.