Sukses Akhirat

0
536

End of Mind

Dunia adalah tempat menanam, barangsiapa ingin mendapatkan sukses negeri akhirat, maka harus menyiapka diri ketika di dunia. Pada QS Al Mukminuun,23:1-11, diterangkan ciri-ciri orang mukmin shalih yang akan mendapatkan sukses negeri akhirat, yaitu memiliki ciri-ciri sewaktu di dunia adalah sebagai berikut :

1.       Kekuatan Spiritual

Orang yang akan masuk surge hanyalah orang yang khusuk dalam shalatnya. Dia akan memiliki kemampuan imajinasi positif untuk membayangkan bahwa : Allah itu ada, surga itu ada, neraka itu ada, malaikat itu ada, siksa padang mahsyar itu ada, siksa kubur itu ada, dan perjumpaan dengan Allah itu sesuatu yang pasti. Nilai-nilai asasi yang harus dimilki seseorang agar memiliki kekuatan spiritual meliputi :

·         Keseluruhan akidah (salimul ‘aqidah-rukun iman)

·         Kebenaran ibadah (shahihul ibadah-rukun islam)

·         Sifat ihsan dalam bentuk kekokohan akhlak (matinul khuluq).

Ihsan adalah engkau menyembah (percaya dan mengabdikan diri) kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, sekalipun engkau tidak melihat-Nya, sungguh Dia melihatmu. (Hadist Shahih Muslim No.2)

2.       Amal Shalih

Orang yang akan masuk surga hanyalah orang yang menjauhkan diri dari perkataan dan perbuatan yang tidak memiliki manfaat.(laghwi). Jadi, dia selalu melakukan pekerjaan, baik amal maupun ucapannya selalu produktif dan bermanfaat. Seorang muslim harus dapat bekerja dengan konsep efektivitas, efisiensi, dan optimal. Untuk dapat bkerja dengan konsep tersebut, maka seorang muslim harus memiliki wawasan yang luas (mutsaqaful fikr) terhadap berbagai disiplin ilmu yang diperlukan.

Seorang muslim harus mampu memanfaatkan seluruh sumber daya dan memperbaiki system secara terus menerus untuk mendapatkan hasil yang optimal. Dalam bekerja dan melakukan teknoligi transformasi  dari input (sumber daya) mampu melakukan optimalisasi teknik. Seluruh proses kegiatan dan amal dikalkulasikan untung ruginya, dengan cermat, tidak ada nilai nilai yang mubazir. Seorang muslim harus mampu melakukan sinergisitas dalam memanfaatkan potensi yang ada.

Dengan menerapkan tehnik manajemen untuk memperoleh nilai-nilai efektivitas,efisiensi dan optimalisasi, maka kerja akan dapat memberikan berkah untuk diri dan pelanggan. Pelanggan dalam beramal dapat berupa keluarga, oranglain, lembaga, atau masyarakat. Konsep produksi dan kerja dalam islam dapat menggunakan teknologi yang menghindarkan nilai mubazirm yaitu prinsip produksi dengan :

·         High profit production

·         High utilities production.

·         Zero defect production

·         Low cost production

·         Low reject rate production.

Dengan demikian, konsep menjauhi perkataan dan perbuatan mubazir dapat terwujud. Jadi, untuk beramal shalih dan mendapatkan produktivitas tanpa mubazier, maka diperlukan kemempuan manajemen diri (munazham fi syu’nihi) dan manajemen waktu (haritsun ‘ala waqtihi).

3.       Kepekaan Sosial.

Orang yang masuk surga hanyalah orang yang menunaikan zakat. Orang paling baik adalah orang yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain (nafiun lighairihi), dan kemampuan seseorang  membayar zakat adalah wujud bermanfaatnya seseorang bagi orang lain. Orang yang mampu menunaikan zakat dengan baik hanyalah mereka yang memiliki kepekaan sosisal yang tinggi, memiliki harta dan memiliki kekuatan spiritual. Untuk itu seorang muslim harus mampu hidup dengan kecukupan agar dapat memberi berkah kepada orang lain (Qadirun ala kasbi). Untuk mampu hidup dengan baik, maka kita harus membekali diri dengan berbagai keterampilan hidup (life skill) sesuai dengan wilayah zaman saat kita hidup.

Kita hidup harus mau peduli dan memiliki empati kepada orang lain, keluarga, tim, dan seluruh anggota dalam berorganisasi. Kita harus mampu merasakan bagaimana perasaan sahabat dan anggota tim kita. Orang yang dapat melayani sepenuh hati kepada tamu, orang tua, anak, istri,sahabat, masyarakat hanyalah mereka yang memilki kepekaan bathin yang tinggi . Kemampuan komunikasi kepada seluruh orang yang bersama kita menjadi keharusan untuk dimilki.

Kepekaan social dapat diasah dengan intensitas bergaul bersama orang yang berstatus lebih rendah dari pada kita secara kontinyu. Jika kita selalu melihat hanya pada sekumpulan orang yang berstatus di atas kita, maka kepekaan social akan menjadi berkurang. Untuk itu, kita harus memilki konsep yang kita tanamkan dalam diri tentang pelayan sepenuh hati, pelayanan yang penuh kasih. Ingat, kita masuk surga karena justru karena adanya yatim piatu, kesulitan orang, dan kesengsaraan orang. Dengan kondisi buruk itulah kemudian kita beramal dan diterima Allah SWT.

4.       Kredibilitas Moral

Oramg yang akan masuk surga hanyalah orang yang dapat menjaga dan meyalurkan kebutuhan seksualnya dengan benar, memiliki pasangan hidup yang sah dan tidak berzina.Prediksi masa depan penyakit seksual dan moral semakin meningkat. Ini merupakan indicator kegagalan seseorang dalam mengendalikan dorongan kebutuhan seksual yang begitu hebat. Bahwa kesuksesan seseorang tidak dipengaruhi oleh kekuatan intelktual mereka.

Melainkan kekuatan emosional dan moral mereka. Orang yang cerdas adalah mereka yang dapat mengendalikan hawa nafsunya dan mampu berpikir ke depan hingga pasca kematian, dan tidak hanya berangan-angan tentang masa depan (Hadist). Untuk dapat sukses dalam kredibilats moral, maka kita membutuhkan kemampuan bermujahadah terhadap diri sendiri, kemampuan disiplin diri, dan pengendalian diri (mujahiduna li nafsihi)

5.       Memenuhi Amanah : Kepemimpinan Sosial

Orang yang akan masuk surga hanyalah orang yang dapat memenuhi apa yang telah diamanahkan kepadanya. Amanah adalah sesuatu yang harus dikerjakan bukan karena kemauan diri sendiri  saja, melainkan sudah menjadi kebutuhan standar sosial. Seseorang yang bekerja dikantor, tentunya mendapatkan amanah mengelola keuangan.

Seseorang yang ditunjuk menjadi pemimpin, dia akan mendapatkan amanah untuk mengelola sumber daya demi kemakmuran rakyatnya. Seseorang yang ingin mendapatkan sukses akhirat, maka harus mampu memenuhi  apa yang diamanahkan kepadanya, ini adalah nilai-nilai kepemimpinan social. Untuk dapat memenuhi amanah, maka sangat diperlukan disiplin tinggi dan penuh kesadaran. Seseorang akan dapat menjaga amanahnya dengan baik jika memiliki soliditas moral dan spiritual. Ingat, bahwa salah satu ciri orang munafik yaitu apabila dia diberi amanah dia ingkar, dan orang munafik tempatnya dikerak neraka

6.       Memenuhi Janji (Integritas)

Orang yang akan masuk surga hanyalah mereka yang dapat memenuhi janjinya dengan baik. Janji adalah sesuatu harus dikerjakan karena konsekuensi terhadap apa yang telah disetujui atau diikrarkan oleh diri nya sendiri. Ingat, salah satu ciri orang munafik adalah apabila berkata (janji) maka dia berbohong. Seseorang yang ingin mendapatkan sukses akhirat maka harus mampu memenuhi apa yang telah ia janjikan. Untuk dapat memenuhi janji, maka sangat diperlukan pengetahuan dan prediksi cukup tinggi, yaitu apakah dia sanggup melaksanakannya atau tidak.

Janjihanya dapat dipenuhi jika kita memeiliki kebiasaan disiplin tinggi. Janji dapat dipenuhi dengan baik jika melakukan janji dengan penuh kesdaran. Iman kita mengalami kondisi naik turun, Rasulullah Saw mengatakan “al imanu yazid way ankus”, sehingga kita harus mampu dan selalu menyegerakan janji kita untuk dapat selalu konsisten terhadap apa yang kita janjikan, Seseorang akan dapat menjaga janjinya dengan baik jika memiliki soliditas moral dan spiritual.

Kata kunci yang harus kita miliki adalah integritas diri, yaitu kesatuan antar keyakinan, ucapan dan tindakan. Integritas merupakan wujud dari sehatnya prinsip moral, sifat keutamaan yang tidak membusuk, terutama dalam hubungan dalam kebenaran dan perlakuan adil, kejujuran, ketulusan, dan keikhlasan. Integritas merupakan landasan kepercayaan, dan kepercayaan diperlukan untuk memperoleh kesuksesan dalam tim dan organisasi.

7.       Konsisten : Program Menjaga Mutu Amal

Orang yang akan masuk surge hanyalah orang yang mampu memelihara (Istiqomah) shalat. Untuk mendapatkan sukses dengan mutu tinggi, maka kita harus bekerja secara konsisten atau memiliki karakter : “Small, Continuous, and improvement” Bekerja memulai dari yang kecil-kecil, tetapi secara terus menerus  dan sambil meningkatkan diri untuk mencapai kualitas prima. Dalam manajemen kita mengenal tehnik benchmarking, yaitu suatu tehnik untuk mendapatkan sukses, maka lembaga atau seseorang harus mencari model (qudwa) secara terus menerus. Lembaga atau diri kita dapat dibandingkan dengan lembaga model sapai kita kuasi, dari proses penguasaan menuju proses penerapan yang kita sebut sebagai benchlearning. Dengan adanya program benchmarking dan benchkearning, kita akan meniru model (qudwah) yang telah kita pilih.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

*